BREAKING NEWS
Selasa, 24 Februari 2026

Nuklir dan Masa Depan Pendidikan Sains Indonesia

BITV Admin - Jumat, 02 Januari 2026 10:05 WIB
Nuklir dan Masa Depan Pendidikan Sains Indonesia
Ilustrasi. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Andra Dihat Putra, S.Kom., FMVA.

SETIAP negara yang ingin melangkah ke frontier teknologi membutuhkan dua hal. Infrastruktur energi yang kuat dan sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. Indonesia selama ini sering terjebak pada debat seputar apakah nuklir aman, mahal, atau sesuai kebutuhan.

Tetapi ada dimensi lain yang jarang dibahas. Jika Indonesia benar-benar membangun PLTN pertama, maka dampaknya tidak hanya pada listrik. Ia akan mengubah seluruh ekosistem pendidikan sains, riset, dan inovasi kita. Dengan kata lain, nuklir bukan hanya proyek energi. Ia adalah proyek peradaban.

Kesenjangan Pendidikan Sains Kita

Baca Juga:

Indonesia memiliki bonus demografi, tetapi kualitas pendidikannya belum sanggup mendukung transformasi ke ekonomi berbasis teknologi. Jumlah lulusan teknik, fisika, kimia, dan matematika masih jauh lebih rendah dibanding kebutuhan industri masa depan.

Laporan OECD menunjukkan kemampuan literasi sains siswa Indonesia berada di peringkat bawah selama lebih dari satu dekade. Kurikulum sering berubah, fasilitas laboratorium terbatas, dan riset jarang bertemu industri.

Dalam konteks ini, masuknya teknologi nuklir akan membuka kebutuhan baru yang tidak bisa ditunda. PLTN membutuhkan fisikawan reaktor, insinyur nuklir, ahli keselamatan radiasi, kimiawan material, teknisi instrumentasi, hingga analis keselamatan probabilistik.

Semua ini membutuhkan pendidikan dan pelatihan khusus yang belum banyak tersedia di dalam negeri. Ketika negara memutuskan membangun PLTN, maka sistem pendidikan harus berubah.

Nuklir sebagai Pemicu Perubahan Kurikulum STEM

Negara yang membangun PLTN biasanya memperbarui kurikulum sains mereka. Korea Selatan adalah contoh paling jelas. Sebelum membangun reaktor pertama pada 1970-an, mereka mengirim ribuan pelajar ke luar negeri, membangun lembaga riset KAERI, dan mengembangkan kurikulum fisika reaktor di universitas.

Transformasi ini mempercepat kemajuan teknologi mereka secara keseluruhan.

Indonesia berpotensi melakukan hal serupa. Masuknya nuklir akan memaksa pendidikan sains menjadi lebih aplikatif dan berbasis laboratorium. Fisika tidak lagi berhenti pada soal gerak parabola, tetapi masuk ke fisika neutron, termohidrolik, dan material radiasi.

Kimia tidak berhenti pada reaksi dasar, tetapi bergerak ke korosi reaktor, pendingin garam cair, atau pemisahan material bakar. Pelajaran matematika menjadi lebih konkret karena digunakan untuk menghitung risiko sistem dan simulasi reaktor.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dari Fisika ke Kehidupan, Mengapa Energi Nuklir Layak Dipercaya
Awal Tahun, Rupiah Dibuka Lemah ke Rp16.699/USD di Tengah Ketidakpastian Global
IHSG Awali 2026 di Zona Hijau, BEI Targetkan Masuk 10 Besar Bursa Dunia
Bahlil Lahadalia Tetapkan Kawasan Rawan Tsunami di Garut, Jalur Evakuasi Jadi Prioritas
Samsung Galaxy A57 Bakal Gunakan Panel OLED dari China, Ini Alasannya
Update Harga Emas Logam Mulia Antam Hari Ini: 1 Gram Rp 2,5 Juta
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru