BREAKING NEWS
Sabtu, 10 Januari 2026

Amerika Serikat, Polisi Dunia atau Penjahat Global?

Raman Krisna - Minggu, 04 Januari 2026 19:14 WIB
Amerika Serikat, Polisi Dunia atau Penjahat Global?
Foto bbc indonesia
Saat tentara Amerika Serkat melakukan serangan di Irak.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

bitvonline.com- Amerika Serikat tidak sekadar terlibat dalam konflik global—ia membentuk, membiayai, dan melanggengkan perang. Ketika Washington berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, fakta di lapangan justru menunjukkan kebalikan: dukungan terhadap pembantaian, penghancuran negara, dan penindasan rakyat sipil demi kepentingan geopolitik.

Palestina: Amerika sebagai Pelindung Kejahatan PerangDalam tragedi Palestina, posisi Amerika Serikat tidak netral dan tidak bisa dibantah. Amerika adalah penopang utama agresi Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

Baca Juga:

Senjata buatan Amerika digunakan dalam pemboman permukiman padat penduduk

Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi menjadi sasaran.

Ribuan warga sipil tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak

Ketika dunia internasional menuntut gencatan senjata, Amerika berkali-kali menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel dari sanksi dan penyelidikan internasional.Ini bukan lagi sekadar dukungan politik. Amerika berperan sebagai pelindung kejahatan perang, memungkinkan pembantaian berlangsung tanpa konsekuensi hukum.

Jika negara lain melakukan hal serupa, Amerika akan menyebutnya "kejahatan terhadap kemanusiaan". Namun ketika sekutunya melakukannya, Washington memilih membungkam dunia.

Venezuela: Agresi Tanpa Bom, Korban Tetap Nyata

Venezuela menjadi contoh bagaimana Amerika menjalankan perang gaya baru. Tanpa invasi terbuka, Amerika menggunakan:

  1. Sanksi ekonomi yang melumpuhkan
  2. Tekanan diplomatik ekstrem
  3. Dukungan terhadap upaya kudeta dan destabilisasi

Dampaknya langsung dirasakan rakyat:

  1. Krisis pangan dan obat-obatan
  2. Inflasi ekstrem
  3. Runtuhnya layanan publik

Sanksi yang dijatuhkan Amerika bukan hukuman terhadap pemerintah, melainkan hukuman kolektif terhadap rakyat sipil. Ini adalah bentuk agresi modern yang sama mematikannya dengan bom—hanya lebih "bersih" secara citra.

Yaman: Perang Proxy dengan Darah Anak-Anak

Di Yaman, Amerika tidak turun langsung, tetapi memasok senjata, intelijen, dan dukungan logistik kepada koalisi yang melakukan pemboman besar-besaran.

Sekolah, pasar, dan rumah sakit hancur, krisis kemanusiaan terburuk di dunia terjadi.

Anak-anak mati bukan hanya karena bom, tetapi juga kelaparan.Amerika mengetahui dampaknya. Namun suplai senjata terus berjalan. Keuntungan industri militer lebih penting daripada nyawa anak-anak Yaman.

Somalia, Pakistan, Suriah: Pembunuhan Tanpa Nama

Di negara-negara ini, Amerika menjalankan pembunuhan jarak jauh lewat drone. Tanpa pengadilan. Tanpa transparansi. Tanpa akuntabilitas.

Satu laporan intelijen keliru cukup untuk:

Menghapus satu keluarga

Membunuh warga desa

Menyisakan trauma berkepanjangan

Korban tidak pernah diadili. Mereka langsung dieksekusi oleh teknologi perang modern.

Standar Ganda yang Telanjang

Amerika:Menolak Mahkamah Pidana Internasional

Melindungi tentaranya dari hukum globalMengutuk kejahatan perang negara lain sambil menutup mata pada kejahatannya sendiri

Inilah imperialisme modern: hukum berlaku untuk yang lemah, kebal untuk yang kuat.Penutup: Dunia Dipaksa Diam, Sejarah Tidak

Palestina, Venezuela, Yaman, Irak, Afghanistan, Vietnam—semuanya adalah korban dari satu pola yang sama: kekuatan global yang merasa kebal hukum.Amerika Serikat mungkin menguasai narasi global, tetapi ia tidak bisa menghapus darah yang telah tertumpah.

Demokrasi yang dibawa dengan bom bukanlah demokrasi.HAM yang ditegakkan dengan sanksi dan pembantaian adalah kemunafikan.

Dan sejarah akan mencatat Amerika bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai pelaku.

Penulis: Raman Krisna, wartawan BITVOnline.com

0 komentar
Tags
beritaTerkait
Operasi Pra–Perang Dunia Ketiga dan Dilema Indonesia
Tiga Ranperda Sumut Disahkan, Bobby Nasution Tegaskan Manfaat untuk Publik
5G Jadi Tren, Ini 3 Ponsel yang Wajib Dimiliki Tahun 2025
Apple Segera Rilis iPhone Air 2, Siap Perbaiki Generasi Pertama
Huawei Luncurkan MatePad 12X 2026, Tablet dengan Fitur Produktivitas Setara PC!
Prabowo Sebut Kelapa Sawit sebagai Kunci Ketahanan Energi Indonesia di Masa Depan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru