BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Benturan Kepentingan Khamenei-Pahlavi dan Pertaruhan Arah Politik Iran

BITV Admin - Senin, 19 Januari 2026 10:00 WIB
Benturan Kepentingan Khamenei-Pahlavi dan Pertaruhan Arah Politik Iran
Bendera Iran. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Di tengah gejolak ini, nama Reza Pahlavi muncul kembali di mata publik dan media internasional sebagai salah satu tokoh oposisi yang paling dikenal.

Pahlavi, yang saat ini tinggal dalam pengasingan di luar negeri, adalah putra dari Shah Mohammad Reza Pahlavi, monarki terakhir Iran yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979.

Selama protes yang sedang berlangsung, seruannya untuk demonstrasi besar dan tekanan terhadap rezim telah menginspirasi sebagian demonstran yang bahkan meneriakkan slogan-slogan mendukung dirinya di jalanan.

Lebih jauh, Pahlavi telah mengeluarkan pernyataan yang secara langsung menentang kebijakan dan posisi Khamenei.

Ia mengecam keterlibatan pemerintah dalam konflik regional dan menyerukan kepada militer, polisi, dan aparat keamanan agar "bergabung dengan rakyat" dan meninggalkan rezim yang menurutnya tidak mewakili kehendak bangsa Iran.

Selain itu, Pahlavi telah merilis rencana transisi yang dikenal sebagai 100-day transition plan, sebuah proposal untuk periode transisi jika rezim Khamenei jatuh, yang menunjukkan bahwa oposisi tidak hanya menolak kekuasaan teokratis saat ini tetapi juga bersiap menawarkan alternatif pemerintahan yang lebih plural dan demokratis.

Di sisi lain, Supreme Leader Ali Khamenei tetap menjadi pusat kekuasaan di Iran.

Sistem politik Iran menempatkan jabatan ini sebagai otoritas tertinggi negara, jauh di atas presiden, sehingga legitimasi dan kelangsungan kekuasaannya menjadi inti dari stabilitas yang dihormati oleh jaringan kekuasaan teokratis.

Dalam menghadapi protes, Khamenei dan pendukungnya telah menekankan pentingnya menjaga kedaulatan nasional dan menolak "campur tangan asing", seraya mengaitkan perlawanan terhadap rezim secara langsung dengan ancaman eksternal—terutama dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Sejak Revolusi Islam 1979, yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, narasi anti-intervensi asing dan kedaulatan revolusioner telah menjadi pilar ideologis yang menjaga legitimasi Republik Islam terhadap ancaman internal dan eksternal sekaligus.

Posisi Khamenei sebagai penerus Khomeini sejak 1989 membuatnya menjadi simbol stabilitas, tetapi juga menjadikan dia target kritik ketika legitimasi itu dipertanyakan oleh massa yang semakin frustrasi.

Revolusi 1979 dan Warisan Monarki

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
PLN Pulihkan Listrik di 6.432 Desa Aceh, 68 Desa Masih Mengandalkan Genset Darurat
Protes Iran Mematikan: Khamenei Sebut Ribuan Korban Akibat Campur Tangan AS dan Israel
Tokoh Intelegensia Kristen Berkumpul, Natal PIKI Bali Jadi Momentum Iman dan Persaudaraan
KBRI Teheran Keluarkan 7 Langkah Keselamatan bagi WNI di Tengah Situasi Tak Menentu
KPK Duga Petinggi PBNU Terima Aliran Uang dari Kasus Kuota Haji, Masih Didalami
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.856 per Dolar AS, Investor Catat Data CPI AS dan Ketegangan Iran
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru