Kawal Proyek Peta Dasar Rp 4,7 Triliun BIG dari Bank Dunia, Kejagung Pasang Badan Mencegah Korupsi
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
Oleh:Dr Devie Rahmawati, CICS
MENGAPA negara harus menarik rem darurat digital untuk anak pada 28 Maret 2026?
Kita sering mengira masalah anak dan media sosial hanya soal lamanya anak menatap layar (screen time).Baca Juga:
Padahal, sains menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius yaitu perubahan perilaku anak dan otaknya.
Smartphone Tidak Membuat Anak Pintar, Justru Melemahkan Fungsi Otak
Riset neuroscience dari Universitas Macquarie, Australia menyebut bahwa penggunaan smartphone dan perangkat digital:
• menurunkan kemampuan kognitif
• melemahkan daya ingat
• mengganggu konsentrasi
• meningkatkan kecenderungan depresi dan kecemasan
• serta membuat individu lebih mudah terdistraksi dan kurang mampu berpikir mendalam.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan, Prof. Mark Williams menegaskan bahwa Informasi yang dipelajari melalui perangkat digital tidak tersimpan dengan baik dan tidak mudah ditransfer ke kehidupan nyata.
Artinya anak mungkin terlihat "banyak tahu", tetapi sebenarnya tidak benar-benar memahami, yang kemudian disebut sebagai ilusi kecerdasan.
Masalah utama bukan pada kontennya, tetapi pada mekanisme kerja platform digital. Smartphone dan media sosial membentuk pola yang disebut attention fragmentation, yaitu Anak terus-menerus:
• berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain
• merespons notifikasi, bunyi, visual bergerak
• kehilangan kemampuan mempertahankan fokus dalam satu tugas
Neurosains menegaskan bahwa otak manusia tidak bisa multitasking, yang terjadi adalah switching, yang memiliki "biaya kognitif" berupa :
• kemampuan membaca panjang menurun
• kesabaran berpikir berkurang
• analisis mendalam tergantikan oleh reaksi cepat
Situasi inilah yang terjadi, hingga generasi digital sering disebut-sebut sebagai generasi yang cepat, tetapi dangkal.
Digital sebagai "Gateway Drug", yaitu Pintu Masuk ke Adiksi yang Lebih Dalam
Salah satu temuan paling kritis dari riset Macquarie adalah kecanduan digital bukan hanya masalah tersendiri, tetapi gerbang menuju kecanduan lain.
Secara neurologis semua adiksi bekerja pada sistem dopamine yang sama, yaitu semakin sering distimulasi, semakin tinggi kebutuhan untuk stimulus berikutnya. Lalu terjadi proses toleransi yaitu kebutuhan menjadi lebih banyak, lebih cepat dan lebih ekstrem.
Williams menegaskan bahwa kecanduan smartphone bekerja untuk persis sama seperti kecanduan narkoba atau perjudian.
Lebih jauh lagi, individu yang sudah kecanduan satu hal, akan menjadi lebih rentan terhadap adiksi lainnya. Temuan ini yang menjelaskan mengapa:
• kecanduan game dapat meningkat ke konten ekstrem
• konsumsi konten ringan, mampu berkembang ke konten berisiko
• media sosial, justru membuka jalan ke perilaku impulsif dan destruktif
Efek digital tidak berhenti pada kognisi atau akal, tetapi Penelitian menunjukkan:
• semakin lama anak di layar, semakin rendah empati
• kemampuan membaca ekspresi wajah menurun
• interaksi sosial nyata pun melemah
Kita sedang menghadapi generasi yang:
• sangat terhubung secara digital
• tetapi semakin terputus secara emosional. Sehingga muncullah fenomena global yaitu:
• meningkatnya kesepian (loneliness epidemic)
• meningkatnya depresi remaja
• meningkatnya kecenderungan bunuh diri
Mengapa Anak Lebih Rentan Dibanding Generasi 20-30 Tahun Lalu
Studi Perbandingan lintas generasi menunjukkan perbedaan fundamental, dimana Generasi sebelum teknologi digital seperti hari ini, ditandai dengan :
• otak berkembang dalam lingkungan stabil
• stimulasi datang secara natural (bermain, interaksi sosial)
• fokus dilatih secara bertahap
sedangkan, generasi media sosial kondisinya:
• otak berkembang dalam lingkungan hiper-stimulus
• paparan dopamin instan sejak usia dini
• tidak pernah dilatih untuk "menunggu, akibatnya:
• toleransi terhadap kebosanan yang sangat rendah
• ketahanan mental yang melemah
• kemampuan berpikir kompleks terus tergerus
Fenomena ini bukan soal "anak sekarang beda", namun soal lingkungan perkembangan otak yang memang berubah drastis.
Negara Tidak Punya Pilihan Selain Intervensi
Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah melalui PP TUNAS bukan hanya relevan, tetapi ilmiah dan mendesak.
Kebijakan penundaan akses bukan pelarangan, namun hadirnya negara karena, algoritma terlalu kuat untuk dilawan oleh setiap individu, apalagi hanya oleh anak dan remaja kita sendirian.* (news.detik.com)
*) Penulis adalahPeneliti dan Pengajar Komunikasi Digital Vokasi UI, pernah memberikan kuliah Kecanduan Game Online di Swansea University, UK.
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
JAKARTA Akademisi Rocky Gerung menyoroti gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) terkait syarat pendidikan pencalonan Gibran Rakab
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pelestarian budaya dan cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya,
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengapresiasi inovasi sosial yang digagas Kecamatan Medan Denai melalui program ANJELI dan K
PEMERINTAHAN
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan dilaporkan memburuk akibat sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Wali Kota Medan Rico Waas me
KESEHATAN
BANDA ACEH Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh memperkuat komitmen memberikan pelayanan yang semakin humanis dan profesional kep
PERISTIWA
MEDAN Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) memasok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita dalam keg
EKONOMI
JAKARTA PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM meraih delapan penghargaan dalam ajang Environmental and Social Innovation Awar
NASIONAL
MEDAN Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Adardam Achyar mempertanyakan pemidanaan terhadap surat yang dibuat advokat dalam menjal
POLITIK
MANDAILING NATAL Foto mobil dinas Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) digunakan untuk mengangkut
PERISTIWA