Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Oleh:Hamid Awaludin
KATA "sihir" mengendap pelan dalam benak kita semua, dari zaman es, batu hingga zaman nuklir ini.
Banyak yang percaya, tetapi lebih banyak lagi yang menolak keberadaannya karena dianggap fiksi.
Baca Juga:
Sihir dinilai sebagai kosa kata merujuk kepada dunia mistik yang sangat tidak rasional.
Kian rasional seseorang, kian gencar ia menampik kata sihir itu.
Namun, Kamis dini hari, 16 Juli 2026, kata sihir tidak lagi beredar dalam wilayah fiksi.
Bukan kosa kata yang berjelajah dalam lingkup khayali.
Semua yang menonton pertandingan semi-final Piala Dunia antara Argentina dan Inggris, baik yang rasional maupun yang tidak rasional, sepakat bulat dan serentak menerima dan meyakini bahwa sihir itu memang ada. Hadir dalam dunia nyata.
Para penonton dan pemirsa televisi, semuanya tersihir oleh liukan dan kelincahan seorang Lionel Messi, kapten tim Argentina.
Ia menerobos dalam celah-celah kaki-kaki lawan.
Ia terkepung ketat, tetapi sukses mengecoh para pengepungnya, lalu lolos secara leluasa. Ini sihir yang konkret. Tidak masuk akal, tetapi nyata.
Kita harus menerima bahwa pertandingan semi-final itu adalah yang terbaik di antara semua pertandingan-pertandingan partai lainnya.
Pertandingan penuh warna, keras, berseni, seolah ada adu lari para sprinter dunia, daya tahan yang prima, teknik menendang dan menyundul kelas dewa, dan adu mental para pemain.
Luar biasa. Sihir Argentina. Partai semi-final tersebut menguji dan membuktikan mental para pemain Argentina: mental juara.
Tertinggal satu gol dan waktu tinggal 11 menit sebelum peluit panjang dibunyikan wasit, Argentina merobek gawang Inggris.
Posisi imbang. Persis menit ke-90, Argentina kembali menggetarkan jala gawang Inggris.
Skor menjadi 2-1, dan mengantar tim Tango ke final.
Inggris, apa boleh buat, kembali dililit harapan hampa untuk "Bring back football to home."
Penantian 60 tahun untuk juara dunia lagi, kembali sirna.
Tidak mungkin Argentina menekuk Inggris kalau bukan karena mental baja sebagai tim juara.
Tekanan sebagai petahana juara dunia luar biasa berat.
Apalagi, dalam jajak pendapat, tidak pernah ada yang memberi posisi harapan buat Argentina sebagai juara dunia lagi.
Tekanan-tekanan itu ternyata dipikul oleh tiap pemain Argentina, bukan sebagai beban, tetapi pemberi semangat juang yang sangat heroik.
Tertinggal dengan sisa waktu 11 menit, justru memacu adrenalin para tim Tango untuk menaklukkan Inggris.
Mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap pesimistis, kehilangan asa dan harapan, apalagi frustrasi.
Tempo permainan anak-anak asuh Lionel Scaloni, kian menjadi-jadi.
Mereka seolah sekam yang tiba-tiba menyalakan api besar yang tak bisa dipadamkan.
Peranan Messi
Kesalahan terbesar Inggris adalah menyiapkan pemainnya menjaga ketat Messi, mengikuti ke mana arah jelajah badan Messi, di situ mereka berkerumun.
Coba kita lihat, Messi pernah dikepung oleh empat pemain Inggris sekaligus di wilayah pertahanan Inggris.
Messi melewati mereka.
Karena ada yang selalu menjaga dan mengikuti Messi, tentu saja ada bidang kosong yang ditinggalkan oleh pemain Inggris yang menjaga Messi tersebut.
Fatalnya, pola permainan Messi, makin dikepung, makin ia leluasa dan liar mencari posisi assist atau menembak.
Dan itulah yang terjadi pada subuh itu.
Di saat yang sama, ada tiga pemain Argentina yang memiliki daya dobrak luar biasa dalam memorakporandakan pertahanan Inggris: Laotaro Martinez, Enzo Hernandes dan Julian Alvarez.
Mereka memiliki kecepatan luar biasa dalam menusuk masuk ke jantung pertahanan Inggris.
Sangat eksplosif. Belum lagi pemain tengah yang bernaluri menyerang dan memang nyaris mencetak gol, Alexis McAllister, yang sangat rajin menyuplai bole ke depan untuk disantap oleh para penyerang Argentina.
Saya kira, pelatih dan juru taktik jitu Argentina, Scaloni, paham betul Messi bakal dikepung secara khusus, maka ia menarik Messi ke wilayah pinggir kanan seolah sebagai winger murni.
Sesekali Messi meliuk masuk wilayah tengah pertahanan Inggris dan mengecoh barisan pertahanan Inggris.
Dini hari itu, adalah milik Messi. Kendati ia tidak mencetak gol, tetapi dua gol Argentina adalah racikan jitu Messi.
Bagai seorang master chef, Messi membuat racikan makanan yang amat lezat dengan platting indah yang berseni dan penuh pesona untuk disantap oleh Enzo Hernandez yang menyamakan kedudukan 1-1.
Dari kaki Messi jugalah Lautaro Martinez membuat gol kedua pada menit terakhir dan membuat Inggris takluk dan mengepak barang untuk pulang kampung.
Posisi Messi yang berada di sayap kanan, luar biasa efektifnya menggedor dan membobol pertahanan Inggris.
Ada utak atik di depan gawang Inggris sebentar, lalu bola mengenai kaki seorang pemain Argentina dan bola tersebut menuju Messi.
Dengan cepat Messi mengoper bola tersebut ke arah belakang, bagian tengah lapangan.
Plak, Enzo yang sudah berdiri bebas, langsung menendang bola tersebut ke arah gawang Inggris.
Meski Enzo mengeksekusi operan Messi jauh di luar wilayah penalti, tetapi tendangannya sangat ekplosif dan membuahkan hasil.
Pada saat memasuki menit ke-92, lagi-lagi Messi berada dalam posisi sayap kanan, memberi umpan jitu pada Lautaro Martinez yang berlari jauh di sebelah kanan gawang Inggris.
Lautaro meloncat tinggi dan membobol gawang Inggris. Pupus sudahlah harapan Inggris di detik itu.
Yang menarik dari umpan Messi adalah presisi atau akurasinya yang sungguh-sungguh mencengangkan.
Operannya ke Enzo seolah menarik bola kembali ke arah wilayah Argentina, tetapi ternyata itu adalah kalkulasi dalam berdasarkan pengalaman dan insting yang luar biasa, karena di sana, Enzo sudah berdiri leluasa, bebas dari kawalan pemain Inggris.
Sejatinya, Enzo sudah beberapa kali menggedor gawang Inggris dengan tembakan jarak jauh, persis di posisi ia menembak dan membuahkan gol.
Tiga kali percobaan tembakan jarak jauh yang dilakukan sebelumnya selalu melenceng.
Tembakan Enzo yang keempat kalinya, sukses merobek jala gawang Inggris. Ia belajar dari pengalaman.
Gol kedua Argentina juga diracik secara apik oleh Messi.
Dari arah kanan, ia memberi umpan manis dan indah kepada Lautaro Martinez yang jauh sekali jaraknya.
Hanya pemain kelas dewa yang bisa memiliki naluri dan ketepatan hitungan antara tendangan atau operan yang diberikannya dengan posisi penerima umpan.
Dini hari itu, Messi sangat jumawa dalam akurasi operan.
Bagai burung yang terbang, Lautaro meloncat dengan presisi tinggi sehingga kepalanya mengenai bola.
Apa yang dilakukan Lautaro dini hari itu, bukan kebetulan, tetapi hasil dari hitungan matang dari seorang Messi.
Gol penentu Lautaro Martinez tersebut, sama persis gaya, posisi dan caranya menanduk bola tatkala Enzo Hernandez menaklukkan Mesir sebelumnya.
Gol Enzo Hernandez ke Mesir tersebut adalah gol penentu yang memenangkan Argentina dengan skor 3-2.
Sementara gol Lautaro Martinez juga menjadi gol penentu kemenangan Argentina melawan Inggris karena skor menjadi 2-1 untuk Argentina. *(bola.kompas.com)
*) Penulis adalah Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.