BREAKING NEWS
Minggu, 02 Agustus 2026

Makna Safari Politik Jokowi dari Lampung ke NTT

Administrator - Minggu, 02 Agustus 2026 11:14 WIB
Makna Safari Politik Jokowi dari Lampung ke NTT
Jokowi dinobatkan jadi Raja Timor. (Foto: Istimewa)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Kekuasaan (power) lahir dari kewenangan yang diberikan konstitusi. Ia memiliki batas waktu, ruang lingkup, dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Sebaliknya, pengaruh (influence) tidak bergantung pada jabatan. Ia tumbuh dari kepercayaan, reputasi, dan kemampuan membentuk persepsi publik. Seorang presiden dapat kehilangan kekuasaan pada hari terakhir masa jabatannya, tetapi pengaruhnya dapat bertahan jauh lebih lama apabila masyarakat masih menilai bahwa pandangan dan kehadirannya memiliki arti.

Dalam konteks itulah safari politik Jokowi perlu dibaca. Pilihan mengunjungi Lampung dan kemudian Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa yang sedang dipelihara bukan lagi struktur pemerintahan, melainkan jaringan sosial-politik yang selama ini menjadi fondasi kepemimpinannya. Pertemuan dengan masyarakat, relawan, tokoh adat, hingga kader partai memperlihatkan hubungan politik tidak berhenti ketika kekuasaan berakhir. Ia berubah bentuk menjadi relasi yang lebih cair, lebih sosial, dan lebih simbolik. Dimensi simbolik tersebut menjadi semakin nyata karena perjalanan itu juga bersinggungan dengan agenda Partai Solidaritas Indonesia.

Kehadiran Jokowi dalam sejumlah kegiatan PSI tidak dapat dilepaskan dari posisi partai tersebut yang sedang membangun identitas dan memperluas basis dukungan. Klaim adanya peningkatan keanggotaan setelah kunjungan di Lampung, benar atau tidaknya akan dibuktikan oleh waktu, menunjukkan bahwa figur politik masih dipandang sebagai aset penting dalam proses konsolidasi organisasi. Dalam politik elektoral, persepsi sering kali menjadi modal awal sebelum berubah menjadi dukungan yang nyata.

Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu khas Indonesia. Di berbagai negara demokrasi, mantan kepala pemerintahan tetap memainkan peran dalam kehidupan politik, baik melalui partai, yayasan, maupun gerakan sosial. Mereka tidak lagi memerintah, tetapi masih memengaruhi. Perbedaannya terletak pada orientasi pengaruh tersebut. Ada yang diarahkan untuk memperkuat institusi, ada pula justru memperpanjang dominasi figur. Di titik inilah kualitas demokrasi diuji. Max Weber pernah mengingatkan, kepemimpinan karismatik memiliki kemampuan luar biasa menggerakkan masyarakat. Namun, karisma selalu mengandung paradoks.

Ia efektif pada saat dukungan sedang menguat, tetapi tidak pernah cukup untuk menopang sistem politik dalam jangka panjang. Karisma harus ditransformasikan menjadi organisasi, aturan, dan kepemimpinan baru. Tanpa proses itu, politik akan terus bergantung pada satu nama, sementara institusi kehilangan kesempatan untuk tumbuh secara mandiri.

Persoalan inilah yang menjadikan safari politik Jokowi menarik untuk diamati. Perjalanan tersebut bukan hanya mengukur seberapa besar antusiasme masyarakat terhadap seorang mantan presiden. Yang lebih penting adalah melihat apakah pengaruh personal itu mampu memperkuat kapasitas organisasi politik yang didatangi, melahirkan kader baru, serta memperluas partisipasi warga dalam kehidupan demokrasi. Dengan kata lain, ukuran keberhasilannya bukan terletak pada banyaknya massa yang hadir, melainkan pada kualitas pelembagaan politik yang ditinggalkan. Di sinilah pula letak tantangan bagi PSI maupun partai politik lain yang memperoleh manfaat dari kedekatan dengan figur besar.

Dukungan tokoh dapat menjadi akselerator yang efektif, tetapi tidak boleh berubah menjadi penyangga utama organisasi. Partai sehat tidak dibangun di atas ketergantungan terhadap satu individu, melainkan di atas sistem kaderisasi, kepemimpinan kolektif, dan kemampuan menawarkan gagasan yang relevan bagi publik. Figur membuka pintu, tetapi institusilah yang menentukan apakah rumah politik itu mampu berdiri kokoh. Oleh sebab itu, safari politik Jokowi sesungguhnya sedang memperlihatkan dua proses berjalan bersamaan.

Di satu sisi, ia menunjukkan, modal simbolik seorang mantan presiden masih memiliki daya tarik yang besar. Di sisi lain, ia menguji kemampuan institusi politik untuk mengubah daya tarik tersebut menjadi kekuatan organisasi berkelanjutan. Di antara keduanya terdapat satu pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia: pengaruh akan selalu dibutuhkan, tetapi hanya institusi yang mampu menjamin keberlangsungan demokrasi melampaui usia politik seorang tokoh.

Warisan

Pada akhirnya, setiap perjalanan politik akan berhenti. Yang tidak pernah benar-benar berhenti adalah tafsir atas perjalanan itu. Safari politik Joko Widodo dari Lampung menuju Nusa Tenggara Timur mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi maknanya akan terus diperdebatkan jauh melampaui berakhirnya rangkaian kunjungan tersebut.

Sebab, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar efektivitas sebuah safari, melainkan bagaimana demokrasi Indonesia memaknai peran seorang mantan presiden setelah kekuasaan formal berakhir. Demokrasi yang matang tidak mengharuskan mantan kepala negara menghilang dari ruang publik. Sebaliknya, pengalaman dan legitimasi yang mereka miliki dapat menjadi aset kebangsaan. Mereka dapat menjadi jembatan antargenerasi, penjaga memori institusional, sekaligus sumber kebijaksanaan ketika bangsa menghadapi berbagai persimpangan. Namun, semua itu hanya akan bernilai apabila pengaruh yang dimiliki diarahkan untuk memperkuat kehidupan demokrasi, bukan sekadar memperluas orbit politik pribadi atau kelompok.

Di sinilah letak perbedaan antara warisan politik dan pengaruh politik. Pengaruh dapat bertahan karena popularitas, kedekatan emosional, atau kemampuan menggerakkan massa. Warisan, sebaliknya, diukur dari apa yang tetap hidup ketika figur tidak lagi berada di panggung utama. Warisan lahir ketika nilai, etika, dan praktik politik yang pernah diperjuangkan menjelma menjadi kebiasaan institusional yang terus bekerja tanpa bergantung pada kehadiran orang yang meletakkan fondasinya. Dalam perspektif itu, safari politik Jokowi menghadirkan pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar hitung-hitungan elektoral.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Menag: Indonesia Terlalu Indah untuk Diacak-acak, Persatuan Harus Tetap Dijaga
Jokowi ke Kader PSI: Dekatilah Rakyat, Jangan Sedikit-sedikit ke Solo
Fahri Hamzah: Korupsi Tak Akan Selesai Kalau Hanya Andalkan Penangkapan
Proses Hukum Dinilai Lamban, Fahri Hamzah Usul Jalan Pintas Pecat Pejabat Korup Lewat Peradilan Etika
Jokowi Simpan Rahasia Target Besar PSI di 2029, "Nggak Usah Disampaikan di Sini"
Baru Separuh Rakyat Kenal Logo Gajah, Jokowi Pacu Kader PSI Bangun 'Mesin Politik' Menuju 2029
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru