Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Oleh:Ahsani Taqwim A
PADA 15 Agustus 2026, dua keterangan resmi keluar dari Banda Aceh pada hari yang sama.
Polda Aceh menyatakan situasi seusai zikir peringatan Hari Damai Aceh ke-21 telah terkendali dan kondusif.
Baca Juga:
Beberapa jam sebelumnya, Koordinator KontraS Aceh Azharul Husna menyatakan peringatan itu tercoreng oleh tindakan represif aparat, dan menyebut kejadian tersebut tak bisa dibaca sebagai peristiwa tunggal.
Keduanya berbicara tentang sore yang sama, di kota yang sama.
Sebagai peneliti komunikasi dan studi naratif, saya membaca dua pernyataan itu bukan sebagai kontradiksi, melainkan sebagai peringatan dini.
Peristiwa Baiturrahman belum punya makna yang disepakati.
Dan di situlah letak bahayanya: dalam beberapa hari ke depan, akan ada perlombaan untuk menentukan cerita mana yang menang (pemberontakan atau penindasan) sebelum fakta dasarnya selesai diverifikasi.
Sikap saya sederhana: seluruh pihak perlu menahan diri dari penamaan dini, dan segera mengisi kekosongan informasi dengan fakta yang bisa diperiksa.
Kekerasan berikutnya, jika terjadi, akan lahir dari cerita yang mengeras terlalu cepat, bukan dari bendera yang dikibarkan di tiang, namun bagaimana narasi dalam video yang beredar.
Kekosongan Fakta Selalu Diisi oleh Ingatan
Yang kita ketahui pasti masih sedikit.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.