BREAKING NEWS
Rabu, 08 April 2026

Akar Panjang Konflik Agraria Sumatera Timur, dari Kolonialisme hingga Tanjung Morawa 1953

Adelia Syafitri - Rabu, 08 April 2026 09:21 WIB
Akar Panjang Konflik Agraria Sumatera Timur, dari Kolonialisme hingga Tanjung Morawa 1953
Perkebunan Tembakau di Deli Maatschappij. (foto: Dok. Deli Nusantara)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Konflik Berkepanjangan hingga 1965

Konflik agraria tidak berhenti di Tanjung Morawa.

Sepanjang 1950-an hingga pertengahan 1960-an, tanah menjadi arena perebutan berbagai kekuatan ideologi—nasionalis, Islam, hingga kelompok kiri.

Ketegangan memuncak pada 1965, ketika konflik politik nasional memperburuk situasi agraria di daerah perkebunan.

Warisan Konflik yang Masih Tersisa

Menurut Budi, persoalan agraria di Sumatera Timur belum sepenuhnya selesai hingga kini. Sejumlah lahan bekas perkebunan telah berpindah tangan dan berpotensi memicu konflik baru.

"Jika persoalan tanah ini kembali dipersoalkan, ia bisa menjadi bom waktu konflik agraria," ujarnya.

Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa konflik tanah bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga terkait erat dengan dinamika politik, sosial, dan warisan kolonial.*


(d/ad)

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS! Ini Kata Menko Airlangga
Gol Tunggal Bawa Indonesia ke Semifinal ASEAN Futsal Championship
Pasar Saham Loyo, IHSG Parkir di 6.971 Terimbas Isu AS vs Iran
HUT ke-78 Sumatera Utara Usung “Satu Kolaborasi, Sejuta Energi”, Pemprov Genjot Sinergi Percepatan Pembangunan Daerah
Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah
Kejar Kepastian Hukum Aset, Pemprov Sumut Percepat Sertifikasi Tanah dan Petakan 113 Aset Idle untuk Tingkatkan PAD
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru