Gubernur Bali Wayan Koster menerima audiensi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Gedung Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jumat (6/2). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Ia menekankan pentingnya memetakan rumah tangga miskin secara detail serta menyelenggarakan bursa kerja besar untuk menyerap lulusan SMK dan perguruan tinggi.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali meluncurkan program "Satu Keluarga Satu Sarjana", yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Program ini menargetkan 1.450 mahasiswa dari keluarga kurang mampu, dengan pembiayaan penuh biaya pendidikan dan bantuan biaya hidup Rp1,2–1,4 juta per bulan.
Menanggapi proyeksi perlambatan pertumbuhan penduduk Bali, Pemprov Bali juga meluncurkan Program Insentif Nyoman dan Ketut, berlaku mulai 2026.
Program ini memberi insentif bagi anak ketiga (Nyoman/Komang) dan anak keempat (Ketut) untuk melestarikan budaya dan mendorong pertumbuhan penduduk berkelanjutan.
Insentif meliputi perawatan ibu hamil, bantuan pangan, pendidikan gratis dari PAUD hingga SMA, dan jaminan kuliah bagi keluarga kurang mampu.
Gubernur Koster menyambut rencana Sensus Ekonomi 2026 dan menekankan pentingnya dukungan seluruh perangkat daerah dan pelaku usaha.
Sensus ini diharapkan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat basis data pembangunanBali, khususnya dalam transformasi ekonomi digital, hijau, dan biru.
"Data yang kredibel, terukur, dan mutakhir akan menjadi kompas kebijakan pembangunanBali yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing," tegas Gubernur Koster.*