BREAKING NEWS
Sabtu, 03 Oktober 2026

Bupati Siak Menangis Lihat 3 Keluarga Guru Tinggal Serumah di Rumah Reot: Pusat Tak Tahu Kita Menderita Seperti Ini

Abyadi Siregar - Sabtu, 03 Oktober 2026 15:12 WIB
Bupati Siak Menangis Lihat 3 Keluarga Guru Tinggal Serumah di Rumah Reot: Pusat Tak Tahu Kita Menderita Seperti Ini
Bupati Siak Afni Zulkifli tak kuasa menahan tangis saat mengunjungi Dusun Mungkal, di Kabupaten Siak, Riau, Jumat, 2 Oktober 2026. (foto: Afni Zulkifli Siak/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

SIAK – Bupati Siak Afni Zulkifli tak kuasa menahan tangis saat mengunjungi Dusun Mungkal, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kabupaten Siak, Riau, Jumat, 2 Oktober 2026.

Air mata Afni mengalir saat melihat kondisi tiga keluarga guru yang harus tinggal bersama dalam satu rumah kayu yang sudah reot.

Rumah tersebut menjadi gambaran kondisi guru yang mengabdi di pelosok Siak.

Baca Juga:

Di tengah keterbatasan listrik dan fasilitas dasar, para guru tetap bertahan mendidik anak-anak yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.

"Kita sama-sama tinggal di daerah yang kaya," kata Afni dengan suara bergetar.

Keprihatinan Afni tidak berhenti pada kondisi tempat tinggal para guru.

Ia juga melihat langsung kondisi anak-anak sekolah di Dusun Mungkal yang harus menempuh perjalanan hampir dua jam untuk pergi dan pulang sekolah.

Tidak adanya bus sekolah membuat para siswa harus menggunakan kendaraan yang tersedia.

Mereka bahkan harus berdesakan dan sebagian berdiri di bak kendaraan truk.

Kondisi tersebut kembali membuat Afni menangis.

"Saya baru jadi Bupati, baru satu tahun. Masih banyak rakyat kami yang masih seperti ini. Pusat tak tahu kita menderita seperti ini," kata Afni berurai air mata.

Afni mengatakan, selama ini persoalan yang dihadapi masyarakat di pelosok lebih banyak ia terima melalui laporan.

Setelah mengunjungi Dusun Mungkal, ia mengaku baru kali ini melihat langsung kondisi warga yang berada di wilayah 3T tersebut.

Afni dilantik sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025.

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Siak menghadapi tekanan fiskal akibat keterbatasan anggaran, warisan utang, serta pengurangan transfer dana dari pemerintah pusat.

Namun, menurut Afni, kondisi fiskal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan masyarakat di wilayah 3T.

Kini, pembangunan rumah guru yang lebih layak di Dusun Mungkal mulai dilakukan dengan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Bagi salah seorang guru yang telah mengabdi selama 10 tahun, pembangunan rumah tersebut menjadi kabar yang berarti.

Selain rumah guru, Afni menyoroti sejumlah kebutuhan dasar lainnya.

Di antaranya bus sekolah, listrik, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini belum menyentuh wilayah 3T tersebut.

"Sudah lama kami sampaikan, bermohon-mohon di setiap kesempatan. Tapi entah kapan dapat jawaban," ujarnya.

Kondisi masyarakat Dusun Mungkal juga membuat Afni menyoroti kesenjangan antara kekayaan alam Kabupaten Siak dan kondisi warga yang tinggal di pelosok.

Ia mempertanyakan rencana pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi (migas) Siak hingga 70 persen pada tahun depan.

"Bagaimana mungkin sebegitu teganya ada DBH Migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan?" kata Afni.

Menurut Afni, DBH migas bukan sekadar angka dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dana tersebut, kata dia, berkaitan langsung dengan kemampuan pemerintah daerah memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk menyediakan bus sekolah, buku, listrik, dan rumah layak bagi guru di wilayah pelosok.

Di akhir kunjungannya ke Dusun Mungkal, Afni menyampaikan harapan agar perjuangan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mendapat jalan.

"Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan," katanya.

Pembangunan rumah baru di Dusun Mungkal kini menjadi harapan bagi tiga keluarga guru yang selama ini tinggal dalam satu rumah kayu.

Bagi mereka, rumah tersebut bukan sekadar bangunan tempat tinggal.

Setelah sekitar satu dekade mengabdi mendidik anak-anak di wilayah pelosok, rumah baru itu menjadi harapan agar mereka dapat memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

Kisah di Dusun Mungkal juga menggambarkan tantangan pelayanan pendidikan di wilayah 3T, mulai dari tempat tinggal guru, akses transportasi siswa, listrik, hingga pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.* (kp/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Menuju Jakarta 500 Tahun: Mampukah Jadi Kota Global Tanpa Meninggalkan Warganya?
Jawab Keluhan Warga Wali Kota Tanjungbalai Garansi Jembatan Keropos Pulo Simardan Kelar Desember
Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Batu Bara Serahkan Bantuan Bedah 425 Rumah Warga
Ketok Palu Pemko & DPRD Tanjungbalai Sepakati Perubahan APBD 2026, Siap Disevaluasi Gubsu
P-APBD Medan 2026 Disepakati Rp7,73 Triliun, Wali Kota Rico Waas Fokus Perkuat Layanan Dasar
Realisasi APBD Medan Masih Rendah, Rico Waas Ancam Sanksi OPD yang Lalai
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru