BREAKING NEWS
Senin, 17 Agustus 2026

Jika Hayati Punya Pilihan: Membaca Patriarki di Balik *Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Abyadi Siregar - Jumat, 10 Oktober 2025 17:27 WIB
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Dari jumlah tersebut, 83,7% terjadi di ranah personal, terutama Kekerasan terhadap Istri (KTI), Kekerasan dalam Pacaran (KDP), dan Kekerasan oleh Mantan Pacar (KMP).

Fakta ini menunjukkan bahwa bahkan dalam relasi yang seharusnya paling aman—keluarga dan cinta—perempuan masih berada di posisi subordinat.

Hayati menjadi simbol perempuan masa kini yang masih hidup dalam bayang-bayang "takdir" yang dikonstruksi orang lain. Mereka mungkin tak lagi dipaksa menikah demi status, namun masih sering dipaksa diam demi kedamaian, menahan demi reputasi, dan memaafkan demi norma.

Ironisnya, penderitaan Hayati justru dibungkus dengan romantisme. Kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan dipuja, sementara ketundukan dianggap sebagai bentuk cinta yang luhur.

Di sinilah wajah patriarki bekerja secara halus: menjinakkan perempuan lewat bahasa cinta. Zainuddin—tokoh laki-laki yang terluka—berhak menunjukkan kemarahan, kebangkitan, dan bahkan dendamnya melalui kesuksesan. Sementara Hayati hanya diberi ruang untuk menyesal.

Ia tak diizinkan menulis akhir kisahnya sendiri. Seperti kata Bell Hooks, "Cinta dalam masyarakat patriarkal sering kali menjadi alat dominasi, bukan pembebasan."

Masih dari CATAHU 2024, kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat 14,17% dari tahun sebelumnya, dengan 330.097 kasus tercatat.

Kekerasan seksual menjadi bentuk paling banyak dilaporkan (26,94%), disusul kekerasan psikis dan fisik dengan persentase hampir sama. Ironisnya, mayoritas pelaku berasal dari relasi dekat: suami, mantan pacar, teman, bahkan tokoh agama atau aparat negara. Ini menegaskan bahwa patriarki tak hanya hidup di ruang publik, tetapi juga bersembunyi di balik cinta, keluarga, dan institusi moral.

Dalam ranah pendidikan dan pekerjaan, perempuan pun masih menghadapi kekerasan sistemik. Komnas Perempuan mencatat peningkatan signifikan dalam kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) sebesar 40,8%.

Ruang digital yang seharusnya membuka kebebasan berekspresi justru menjadi arena baru bagi kontrol dan intimidasi.

Kita bisa saja menyebut kisah Hayati sebagai potret masa lalu. Namun realitas hari ini menunjukkan struktur yang sama masih hidup—hanya berganti bentuk dan ruang.

Dari aturan sosial yang mengatur cara berpakaian perempuan, hingga tekanan moral dalam keluarga dan komunitas—semuanya berakar pada keyakinan yang sama: bahwa perempuan harus diatur demi menjaga "tatanan."

Selama suara perempuan masih dianggap gangguan, selama perempuan yang bersuara dianggap tidak sopan, dan selama cinta masih diukur dari seberapa besar perempuan berkorban, kapal-kapal seperti Van der Wijck akan terus tenggelam.

Referensi :

- Komnas Perempuan. (2025). Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2024: "Menata Data, Menajamkan Arah." Jakarta: Komnas Perempuan.

- Hamka. (1938). Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Balai Pustaka.

- Soraya, Sunil. (2013). Tenggelamnya Kapal Van der Wijck [Film]. Soraya Intercine Films.

- Hooks, bell. (1984). Feminist Theory: From Margin to Center. South End Press.

- Walby, Sylvia. (1990). Theorizing Patriarchy. Basil Blackwell.*

*) Penulis adalah mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada program studiIlmu Komunikasi

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Universitas Moestopo Perkuat Diplomasi Akademik, Ketua Prodi Hubungan Internasional Sampaikan Relevansi Bandung
Baru Bercerai, Kini Azizah Salsha Berpose Mesra dengan Nadif Zahiruddin
Sidang Praperadilan Nadiem Makarim: Kejagung Bawa 90 Bukti dan Satu Ahli ke PN Jaksel
Masyarakat Sumut Ingin Langkah Nyata: Kasus Ijazah Jokowi Harus Jadi Momentum Supremasi Hukum
Universitas Al-Azhar Gelar Kuliah Perdana, Bahas Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Perguruan Tinggi di Sumut
Azizah Salsha Isyaratkan Move On Usai Cerai dari Pratama Arhan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru