BREAKING NEWS
Minggu, 13 September 2026

Gelar Sarjana Saja Tak Cukup! Prof OK Saidin Ingatkan 169 Wisudawan Unham Jaga Akhlak di Era AI

Azryn Marida - Minggu, 13 September 2026 12:03 WIB
Gelar Sarjana Saja Tak Cukup! Prof OK Saidin Ingatkan 169 Wisudawan Unham Jaga Akhlak di Era AI
Para pimpinan Yayasan dan Universitas Amir Hamzah diabadikan usai acara wisuda. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Universitas Amir Hamzah (Unham) mewisuda 169 sarjana dari empat fakultas, yakni Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Bisnis, dan Fakultas Pertanian. Prosesi wisuda digelar di kampus Unham, Jalan Pancing Pasar V Barat, Medan Estate, Sabtu (12/9/2026).

Wisuda tersebut dilaksanakan dalam Sidang Terbuka Universitas yang dipimpin Rektor Unham Prof Dr Tarmizi. Hadir dalam kegiatan itu Ketua Pembina Yayasan Unham Sultan Negeri Serdang Tuanku Drs Ahmad Thala'a Al Haj ibni Tuanku Abu Nawar Sinar Al Haj, Ketua Badan Pengawas Yayasan Tengku Osman Amal Ganda Wahid Ibni Tuanku Azmy Perkasa Alam, serta sejumlah fungsionaris yayasan dan pimpinan fakultas.

Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Prof Dr Bahdin Nur Tanjung mengatakan keberadaan Unham yang kini memasuki usia 47 tahun telah memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi swasta memiliki kedudukan yang setara dengan lulusan perguruan tinggi negeri. Hal yang membedakan, kata Bahdin, adalah kemampuan alumni dalam menyerap ilmu selama kuliah dan menerapkannya di dunia kerja.

"Semua sarjana yang diluluskan oleh perguruan tinggi memiliki derajat yang setara. Yang membedakannya adalah ketajaman dan kecerdasan para alumni dalam menyerap ilmu pengetahuan selama mengikuti pendidikan dan bagaimana kemudian ia dapat menerapkan ilmu yang ia peroleh di lingkungan kerjanya," ujar Bahdin.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah I Sumatera Utara Dr Isa Indrawan juga mengingatkan para wisudawan agar tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar sarjana. Menurutnya, kelulusan justru menjadi awal untuk memasuki proses pembelajaran yang lebih luas di tengah persaingan global.

Isa juga menekankan pentingnya akhlak agar para lulusan mampu beradaptasi dengan perubahan dan tantangan di luar lingkungan kampus.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Universitas Amir Hamzah Prof Dr H OK Saidin mengingatkan para wisudawan untuk mensyukuri kesempatan menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana. Menurutnya, gelar sarjana membawa tanggung jawab untuk menjaga integritas dan karakter dalam kehidupan setelah lulus.

OK Saidin menyoroti perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, internet, platform digital, dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, belajar, hingga menjalankan aktivitas ekonomi.

"Perubahan teknologi terjadi dengan cepat. Kecerdasan buatan mengubah cara kita bekerja dan berpikir. Persaingan global semakin ketat. Dalam situasi ini, kemampuan beradaptasi menjadi kunci penting," tutur OK Saidin.


Sidang Terbuka Universitas Amir Hamzah dengan agenda wisuda terhadap 169 sarna dari Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Bisnis dan Fakultas Pertanian, Sabtu (12/9/2026). (Foto: ist/BITV)


Dia mencontohkan berbagai aktivitas yang kini dapat dilakukan secara digital, mulai dari transaksi keuangan, membaca berita dan buku, hingga layanan profesional yang sebelumnya membutuhkan pertemuan secara langsung.

Menurut OK Saidin, perkembangan AI juga telah membuat sejumlah pekerjaan dan proses produksi berubah. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis.

"Tak cukup hanya dengan berbekal ilmu yang sudah diperoleh hari ini. Dunia hari ini menghendaki tidak saja orang-orang yang berilmu, tetapi orang-orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, berakhlak dan beradab dan memiliki integritas moral," katanya.

OK Saidin juga mengingatkan para lulusan agar menjaga integritas ketika memasuki dunia kerja. Menurutnya, tekanan dan godaan untuk mengambil jalan pintas akan selalu ada, sehingga reputasi harus dibangun melalui kejujuran dan konsistensi.

"Dunia kerja penuh dengan tekanan dan godaan untuk mengambil jalan pintas. Namun, reputasi yang baik dibangun dari kejujuran dan konsistensi, bukan dari cara instan," tegasnya.

Dia menilai perguruan tinggi memiliki keterbatasan dalam membentuk jati diri, karakter, akhlak, dan adab secara menyeluruh. Karena itu, nilai-nilai tersebut harus terus melekat pada diri para lulusan dalam menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

OK Saidin kemudian mengaitkan perkembangan teknologi dengan tantangan etika. Menurutnya, kemajuan AI telah melahirkan persoalan baru seperti deepfake, misinformasi otomatis, dan manipulasi algoritmik yang berkembang lebih cepat dibandingkan kerangka etika yang mengaturnya.

Dia juga menyinggung pemikiran Ibnu Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq mengenai pembentukan akhlak melalui kebiasaan. Menurutnya, tantangan saat ini muncul karena ruang digital memiliki pola interaksi yang berbeda dengan lingkungan sosial secara langsung.

Selain akhlak, OK Saidin menyoroti pentingnya adab dalam komunikasi digital. Minimnya interaksi tatap muka dinilai dapat mengurangi empati dan membuka ruang bagi perundungan siber, ujaran kebencian, serta menurunnya kesantunan dalam diskusi publik.

Dia kemudian mengutip pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menempatkan adab sebagai penghubung antara ilmu dan amal. Menurutnya, penguasaan teknologi tanpa adab dapat meningkatkan risiko penggunaan pengetahuan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Karena itu, OK Saidin mendorong lembaga pendidikan merancang kurikulum yang secara nyata menghubungkan akhlak, etika, dan adab dengan kehidupan digital.

"Lembaga pendidikan perlu merancang kurikulum yang menghubungkan akhlak, etika, dan adab secara eksplisit dengan situasi digital nyata. Diskusi tentang privasi data, disinformasi, dan etika penggunaan kecerdasan buatan harus masuk ke dalam pembelajaran karakter, bukan hanya pembelajaran teknis," ujarnya.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup ditempatkan sebagai materi tambahan, melainkan perlu diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran. Keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak di tengah perkembangan teknologi digital.

Dia menambahkan regulator dan pengembang teknologi juga perlu memperhatikan dampak etis dari desain produk digital agar perkembangan teknologi tetap mendukung interaksi sosial yang sehat.

OK Saidin menegaskan akhlak, etika, dan adab justru semakin penting di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, tantangan masa depan bukan hanya soal kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga menjaga karakter, penalaran moral, dan kesantunan sosial.

Pada akhir orasinya, OK Saidin menyampaikan pesan kepada para wisudawan bahwa sarjana merupakan orang pilihan yang harus mampu bersangka baik kepada sesama, menilai peristiwa secara bijaksana, tidak mudah menuduh, serta mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan fakta.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gunung Ile Lewotolok Kembali Erupsi, Hujan Abu Vulkanik Mulai Capai Rumah Warga di Lembata
Peringatan 1 Muharram di Aceh Singkil, Bupati Tekankan Pentingnya Peran Pesantren bagi Generasi Muda
KPK Gelar Bimtek Anti Korupsi di Asahan, Dorong Penguatan Integritas dan Transparansi Pemerintahan Daerah
Universitas Moestopo dan Pemda Lombok Barat Gelar Workshop Profesionalisme DPRD
Wakil Ketua ICMI Aceh Hadiri Multaqa Ulama Internasional di Turki, Serukan Dukungan Global untuk Rehabilitasi Aceh Pasca-Bencana
Tiga Putusan Sela, Satu Ditolak: KI Babel Tegaskan Batasan Keterbukaan Informasi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru