BREAKING NEWS
Senin, 14 September 2026

Gelar Sarjana Saja Tak Cukup! Prof OK Saidin Ingatkan 169 Wisudawan Unham Jaga Akhlak di Era AI

Azryn Marida - Minggu, 13 September 2026 12:03 WIB
Gelar Sarjana Saja Tak Cukup! Prof OK Saidin Ingatkan 169 Wisudawan Unham Jaga Akhlak di Era AI
Para pimpinan Yayasan dan Universitas Amir Hamzah diabadikan usai acara wisuda. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung


Dia mencontohkan berbagai aktivitas yang kini dapat dilakukan secara digital, mulai dari transaksi keuangan, membaca berita dan buku, hingga layanan profesional yang sebelumnya membutuhkan pertemuan secara langsung.

Menurut OK Saidin, perkembangan AI juga telah membuat sejumlah pekerjaan dan proses produksi berubah. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis.

"Tak cukup hanya dengan berbekal ilmu yang sudah diperoleh hari ini. Dunia hari ini menghendaki tidak saja orang-orang yang berilmu, tetapi orang-orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, berakhlak dan beradab dan memiliki integritas moral," katanya.

OK Saidin juga mengingatkan para lulusan agar menjaga integritas ketika memasuki dunia kerja. Menurutnya, tekanan dan godaan untuk mengambil jalan pintas akan selalu ada, sehingga reputasi harus dibangun melalui kejujuran dan konsistensi.

"Dunia kerja penuh dengan tekanan dan godaan untuk mengambil jalan pintas. Namun, reputasi yang baik dibangun dari kejujuran dan konsistensi, bukan dari cara instan," tegasnya.

Dia menilai perguruan tinggi memiliki keterbatasan dalam membentuk jati diri, karakter, akhlak, dan adab secara menyeluruh. Karena itu, nilai-nilai tersebut harus terus melekat pada diri para lulusan dalam menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

OK Saidin kemudian mengaitkan perkembangan teknologi dengan tantangan etika. Menurutnya, kemajuan AI telah melahirkan persoalan baru seperti deepfake, misinformasi otomatis, dan manipulasi algoritmik yang berkembang lebih cepat dibandingkan kerangka etika yang mengaturnya.

Dia juga menyinggung pemikiran Ibnu Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq mengenai pembentukan akhlak melalui kebiasaan. Menurutnya, tantangan saat ini muncul karena ruang digital memiliki pola interaksi yang berbeda dengan lingkungan sosial secara langsung.

Selain akhlak, OK Saidin menyoroti pentingnya adab dalam komunikasi digital. Minimnya interaksi tatap muka dinilai dapat mengurangi empati dan membuka ruang bagi perundungan siber, ujaran kebencian, serta menurunnya kesantunan dalam diskusi publik.

Dia kemudian mengutip pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menempatkan adab sebagai penghubung antara ilmu dan amal. Menurutnya, penguasaan teknologi tanpa adab dapat meningkatkan risiko penggunaan pengetahuan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Karena itu, OK Saidin mendorong lembaga pendidikan merancang kurikulum yang secara nyata menghubungkan akhlak, etika, dan adab dengan kehidupan digital.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gunung Ile Lewotolok Kembali Erupsi, Hujan Abu Vulkanik Mulai Capai Rumah Warga di Lembata
Peringatan 1 Muharram di Aceh Singkil, Bupati Tekankan Pentingnya Peran Pesantren bagi Generasi Muda
KPK Gelar Bimtek Anti Korupsi di Asahan, Dorong Penguatan Integritas dan Transparansi Pemerintahan Daerah
Universitas Moestopo dan Pemda Lombok Barat Gelar Workshop Profesionalisme DPRD
Wakil Ketua ICMI Aceh Hadiri Multaqa Ulama Internasional di Turki, Serukan Dukungan Global untuk Rehabilitasi Aceh Pasca-Bencana
Tiga Putusan Sela, Satu Ditolak: KI Babel Tegaskan Batasan Keterbukaan Informasi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru