Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
LABUHANBATU – Video yang menarasikan satu kompi anggota TNI diduga membawa kabur 16 ekor lembu milik seorang janda di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, viral di media sosial.
Namun, hasil penelusuran menunjukkan peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan institusi TNI.
Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, menegaskan bahwa persoalan yang terekam dalam video itu merupakan sengketa kepemilikan lembu antara sesama warga sipil.
Baca Juga:
Video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan sejumlah pria berbadan tegap berjalan kaki pada malam hari.
Warga yang berada di lokasi tampak menyorotkan cahaya senter sambil merekam suasana.
Unggahan video itu disertai narasi yang menyebut, "Geger, warga Labuhanbatu pergoki satu kompi anggota TNI yang diduga digodol 16 ekor lembu milik janda."
Menanggapi viralnya video tersebut, Hanung mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan.
"Saya dapat informasi video itu sudah lama. Sekitar bulan Mei tahun ini," kata Hanung, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Hanung, informasi yang diterima Kodim menyebutkan bahwa peristiwa tersebut berawal dari perselisihan kepemilikan lembu antara seorang janda dengan seorang pria berinisial J, warga Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah.
Ia memastikan persoalan tersebut sama sekali tidak melibatkan anggota TNI.
"Jadi ini sipil dengan sipil tapi kok bawa-bawa nama TNI. Ya kami sangat menyayangkan," ujarnya.
Hanung menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterimanya, sengketa tersebut sebelumnya telah dilaporkan ke Polres Labuhanbatu hingga Polda Sumatera Utara.
Namun laporan itu disebut belum dapat diproses karena belum memenuhi persyaratan administrasi.
"Kalau perkembangannya saya masih cek, apakah ada mediasi atau bagaimana. Untuk video itu juga masih kami cek sumber dan originalitasnya," katanya.
Kodim 0209/Labuhanbatu mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai narasi yang beredar di media sosial sebelum informasi tersebut dipastikan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta tidak mengaitkan sebuah peristiwa dengan institusi tertentu tanpa didukung fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hingga kini, aparat masih melakukan penelusuran terhadap asal-usul video yang beredar serta memastikan kronologi sebenarnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.* (tm/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.