BREAKING NEWS
Jumat, 21 Agustus 2026

Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang

Administrator - Jumat, 21 Agustus 2026 17:31 WIB
Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang
Hermanto Ginting, ayah Inka Kristy br Ginting. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KARO — Sejumlah pelajar yang sebelumnya dinyatakan membaik setelah menjalani perawatan akibat dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, kembali mengalami keluhan kesehatan.

Beberapa siswa yang sempat diperbolehkan pulang dilaporkan kembali mengalami gejala seperti kejang, mual, pusing, hingga sesak.

Kondisi tersebut membuat keluarga kembali membawa mereka ke rumah sakit.

Baca Juga:

Situasi ini sekaligus memunculkan pertanyaan dari orang tua mengenai kondisi para korban sebelum dinyatakan pulih dan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.

Salah satu korban adalah Inka Kristy br Ginting. Pelajar tersebut sebelumnya dirujuk dari RSUD Kabanjahe ke Rumah Sakit Umum Bina Kasih Medan.

Setelah menjalani perawatan selama lima hari, Inka dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Namun, beberapa hari setelah kembali ke rumah, kondisi Inka kembali menurun.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, ia mengalami kejang sehingga keluarganya kembali membawanya ke rumah sakit.

"Kata dokter anak saya sudah sembuh, makanya kami diizinkan pulang. Tapi semalam anak saya kejang-kejang lagi hingga terpaksa kami bawa kembali ke RSU Kabanjahe," ujar Hermanto Ginting, ayah Inka Kristy br Ginting, Jumat, 21 Agustus 2026.

Hermanto mengatakan putrinya sebelumnya mengalami sejumlah keluhan kesehatan selama menjalani perawatan.

Di antaranya tenggorokan terasa panas, gatal-gatal, nyeri perut, dan sakit kepala hebat.

Sebelum diperbolehkan pulang, Inka juga diminta membuat video testimoni mengenai kesembuhannya.

Video tersebut kemudian beredar luas dan berisi pujian terhadap pelayanan RSU Bina Kasih Medan.

Namun, kondisi Inka kembali memburuk setelah berada di rumah.

"Anak saya kejang-kejang lagi," kata Hermanto dengan nada cemas.

Warga Desa Kutambaru, Kecamatan Munte, itu mempertanyakan kondisi kesehatan putrinya yang kembali mengalami gejala setelah sebelumnya dinyatakan sembuh.

"Kata dokter anak saya sudah sembuh. Tapi ini kok kambuh lagi?" ujarnya.

Kasus serupa dialami sejumlah pelajar lainnya.

Lia Malemta br Sitepu, siswa SMK Bersama Berastagi, yang sebelumnya dinyatakan membaik, kembali dibawa ke RS Amanda Berastagi pada Selasa malam, 18 Agustus 2026, setelah mengalami keluhan kesehatan.

Selain Lia, tiga korban lainnya menjalani perawatan di RS Haji Medan.

Mereka adalah Krismas Dayanti Sihite dari SMAN 1 Berastagi serta F Purba dan Ana Karina Karo dari Yayasan Perguruan Bersama Berastagi.

Kondisi Krismas sebelumnya menjadi perhatian karena mengalami gangguan saraf dan kekakuan pada tubuh.

Menurut orang tuanya, dokter menyebut terdapat gangguan pada saraf otak.

"Lehernya seperti terjepit. Bahkan untuk minum saja lehernya harus ditarik terlebih dahulu agar air bisa masuk. Ia juga mengeluhkan rasa panas yang membakar dari perut hingga ke ulu hati," tutur Sihite.

Krismas juga sempat mengalami kesulitan menelan, muntah, kejang, hingga gangguan psikologis.

Ia beberapa kali menjerit histeris pada malam hari selama menjalani perawatan.

Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun pada Jumat, 21 Agustus 2026, kondisi Krismas telah membaik dan ia diperbolehkan pulang.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan hasil investigasi internal terkait dugaan keracunan massal tersebut.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan dugaan awal berkaitan dengan kelalaian dalam penerapan sistem rantai dingin atau cold chain pada bahan baku makanan.

"Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer. Itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," kata Sudaryono saat menjenguk korban beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme dan pembentukan toksin pada ikan.

Salah satu zat yang dapat terbentuk pada ikan kelompok scombroid, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan makarel, adalah histamin apabila ikan tidak segera didinginkan.

Paparan histamin dapat menimbulkan sejumlah gejala, antara lain gatal-gatal, kemerahan pada kulit, pusing, mual, dan jantung berdebar.

Namun, keberadaan histamin maupun jenis racun yang menyebabkan gangguan kesehatan para pelajar di Berastagi masih membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan laboratorium.

Kondisi sejumlah korban yang kembali mengalami keluhan setelah dinyatakan membaik membuat orang tua berharap pemerintah segera memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.

Mereka juga meminta kondisi kesehatan para pelajar diperiksa secara menyeluruh sebelum dinyatakan pulih dan diperbolehkan kembali ke rumah.

Pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para pelajar, sekaligus menjadi dasar evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.* (sp/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Luhut Ingatkan Kepala BGN: Pembangunan SPPG Tak Boleh Sekadar Kejar Bisnis
Sempat Simpang Siur Disebut Rp480 Triliun, Anggaran MBG 2027 Turun Jadi Rp240 Triliun, Ini Kata Ekonom
BEM USU Gelar Aksi di Lapangan Merdeka, Kritik MBG hingga Kebijakan Pemerintah: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?
Zulhas Janji Benahi MBG dalam Dua Bulan: Kami Bereskan
82 Dapur MBG Dibangun dengan Rp110,8 Miliar, Eks Waka BGN Ungkap Asal Dana: Anggaran Hamba Allah
Lodewyk Pusung Sempat Dihubungi Seskab Teddy Sebelum Dicopot dan Ditangkap, Ini yang Dibahas
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru