BREAKING NEWS
Minggu, 25 Oktober 2026

Mengapa Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung? Ini Penjelasan Ahli

Abyadi Siregar - Sabtu, 05 September 2026 16:56 WIB
Mengapa Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung? Ini Penjelasan Ahli
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Jumat malam (4/9/2026). (foto: Dok. PVMBG)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDUNG – Suara dentuman yang diduga berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan terdengar hingga wilayah Bandung, Jawa Barat.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan suara dentuman dan getaran dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, serta Banten dan Lampung.

Baca Juga:

"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi," kata dia, Sabtu (5/9/2026).

"Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," sambungnya.

Menurut Lana, suara dentuman dari Gunung Anak Krakatau dapat terdengar hingga Bandung karena adanya pelepasan gas secara cepat saat erupsi.

Fenomena itu juga dapat terjadi akibat gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan.

"Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas," papar Lana.

Gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah dapat merambat hingga ratusan kilometer melalui atmosfer.

Kondisi atmosfer, termasuk suhu, tekanan, dan angin di ketinggian tertentu, dapat membelokkan jalur rambatan suara.

Akibat proses tersebut, gelombang suara yang berasal dari kawasan Gunung Anak Krakatau dapat kembali turun ke permukaan bumi di wilayah yang jauh dari sumber suara.

"Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar," beber Lana.

Lana mengimbau masyarakat tetap tenang dalam menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi mengenai potensi tsunami.

Saat ini tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.

Dengan status tersebut, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah potensi bahaya akibat aktivitas gunung api, antara lain aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu vulkanik.

Sebaran abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, memberikan penjelasan serupa mengenai suara dentuman yang terdengar di Bandung.

"Dentuman bandung dapat dijelaskan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK)," jelas dia melalui keterangan, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Daryono, dentuman tersebut terjadi akibat perubahan mendadak energi panas dan energi mekanis dari proses erupsi menjadi gelombang tekanan suara berfrekuensi sangat rendah atau infrasound.

Gelombang infrasound tersebut kemudian dapat merambat melalui lapisan troposfer dan stratosfer, yakni bagian atmosfer yang berada di atas permukaan bumi.

"Gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradient temperatur serta geser angin (wind shear)," ujar dia.

Kondisi tersebut membuat gelombang mengalami redaman yang relatif kecil sehingga dapat menjangkau wilayah yang sangat jauh dari sumber erupsi.

Daryono menjelaskan gelombang tekanan atmosferik tersebut juga dapat memicu resonansi mekanis pada benda atau struktur ringan, seperti kaca jendela.

Fenomena tersebut berbeda dengan getaran akibat gelombang seismik yang merambat melalui tanah.

Dalam kasus ini, getaran yang dirasakan masyarakat dapat berkaitan dengan tekanan gelombang suara yang merambat melalui atmosfer.

"Membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung," ucap Daryono.

Menurut dia, bentuk topografi Cekungan Bandung dapat berperan seperti ruang yang memantulkan dan memperkuat gelombang tekanan atmosferik secara lokal.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa suara dentuman erupsi Gunung Anak Krakatau dapat terdengar hingga wilayah Bandung, meskipun jaraknya mencapai sekitar 700 kilometer dalam garis lurus.

Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau maupun wilayah yang terdampak suara dentuman diimbau mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.* (km/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Aktivitas Gunung Sinabung Masih Tinggi, Pengungsi Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan
Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak, Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung di Karo Terima Ratusan Porsi Makan Bergizi Gratis
Gunung Semeru di Lumajang Kembali Erupsi dan Semburkan Kolom Abu Setinggi 1.000 Meter
Semalaman Muntahkan Lava Air Mancur, Anak Krakatau Kini Siaga Level III
Erupsi Gunung Sinabung Berdampak ke 1.832 Hektare Lahan Pertanian Karo, Ini Komoditas yang Terdampak
Gunung Sinabung Siaga Level 3, BPBD Sumut Pastikan Pengungsi dan Warga di Zona Merah Ditangani
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru