BREAKING NEWS
Minggu, 20 September 2026

Hampir Setahun Tinggal di Huntara, Penyintas Banjir Aceh Utara: Pak Presiden, Sampai Kapan Kami di Sini?

Nurul - Minggu, 20 September 2026 16:28 WIB
Hampir Setahun Tinggal di Huntara, Penyintas Banjir Aceh Utara: Pak Presiden, Sampai Kapan Kami di Sini?
Sejumlah penyintas banjir di hunian sementara Desa Keude Bungkah, Kec. Muara Batu, Kab. Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (19/9/2026) sedang duduk dibawah pohon tepat di area hunian itu. (foto: Kompas/Masriadi Sambo)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ACEH UTARA — Sejumlah penyintas banjir di hunian sementara (huntara) Desa Keude Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, masih bertahan setelah hampir setahun meninggalkan rumah mereka.

Pada Minggu, 20 September 2026, sejumlah penyintas terlihat duduk di bawah pohon di area hunian sementara.

Terik matahari membuat mereka memilih berada di luar hunian.

Baca Juga:

Kondisi di dalam rumah sementara dinilai terlalu panas dan tidak nyaman untuk ditempati.

Padahal, para penyintas sudah sekitar 11 bulan tinggal di huntara sambil menunggu pembangunan hunian tetap yang dijanjikan pemerintah.

"Kami sudah menerima jadup (jaminan hidup), bantuan ekonomi dan isi hunian. Masalahnya uang itu kita gunakan beli beras, kompor dan lain sebagainya. Sudah habis juga," kata Yanti, salah seorang penghuni hunian sementara itu.

Yanti mengatakan, sebelum bencana banjir pada 26 November 2026 lalu, suaminya bekerja sebagai petani tambak. Namun, kondisi tambak mereka berubah setelah bencana.

Tambak tersebut kini berubah menjadi laut. Rumah mereka juga rata dengan tanah.

Untuk bertahan hidup, Yanti dan keluarganya kini mencari kerang. Dalam sehari, penghasilan yang diperoleh berkisar Rp20.000-Rp30.000.

"Sebenarnya berat, hanya saja daripada tidak ada sama sekali pendapatan. Suami saya sekarang bekerja serabutan," ujar Yanti.

Rumah Yanti harus direlokasi. Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan hunian tetap bagi keluarganya akan dibangun.

"Sampai kapan kami di sini? Kami juga tidak tahu. Kami tidak punya pilihan lain," katanya.

Yanti tinggal di hunian sementara bersama suami dan tujuh anaknya. Hunian berukuran sekitar 3x4 meter itu harus menampung seluruh anggota keluarganya.

Kondisi tersebut membuat mereka harus tinggal berdesakan.

"Tidur ya kita berjejer, sudah seperti ikan dijejer. Tapi mau bagaimana lagi," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Maimunah, penyintas banjir lainnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga membantu modal usaha agar para penyintas dapat kembali memperoleh penghasilan.

"Saya dulu sebelum banjir jualan. Sekarang siang begini ya duduk, pagi mencari kerang. Kalau ada modal, saya mau jualan lagi," ujarnya.

Bagi Maimunah, bantuan modal usaha dapat menjadi jalan bagi keluarga penyintas untuk kembali mandiri setelah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghasilan akibat bencana.

Pada awalnya, pemerintah menargetkan para penyintas hanya tinggal selama tiga bulan di hunian sementara.

Namun, hampir setahun setelah bencana, pembangunan rumah untuk para penyintas belum seluruhnya selesai.

Khusus di Aceh Utara, sebanyak 500 unit rumah sedang dikerjakan. Pembangunan tersebut merupakan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

Sementara itu, kebutuhan rumah bagi penyintas gempa di Aceh Utara mencapai sekitar 8.000 unit.

"Kami membutuhkan rumah secepatnya. Kami harap Bapak Presiden bisa segera memutuskan, kapan rumah kami selesai," pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Aceh Utara, Muhammad, belum memberikan tanggapan. Pesan singkat yang dikirimkan juga belum direspons.* (km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kemensos Cairkan Rp435,3 Miliar untuk Korban Bencana di 6 Daerah Sumatra, Segini Bantuan untuk Tapteng dan Taput
Aceh Youthpreneur 2026 Dorong Pemuda Sulap Potensi Lokal Jadi Peluang Usaha
Harhubnas 2026, Bobby Nasution Dorong Konektivitas Transportasi Sumut Makin Terintegrasi
Daging Pala yang Dulu Terbuang Kini Diolah Jadi Minuman, Produk Abdya Mulai Dikenalkan di Banda Aceh
Bupati Batu Bara Apresiasi Inovasi Bank Sampah Berseri, Ubah Sampah Jadi Pakan Ternak hingga Pupuk Tanaman
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Minggu 20 September 2026: Sejumlah Wilayah Hujan Disertai Petir
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru