SOLOK – Sentra bawang merah Alahan Panjang, Kabupaten Solok, mencatat kinerja pertanian yang stabil sepanjang 2025.
Kondisi cuaca yang lebih bersahabat dibanding daerah lain membuat produksi tetap tinggi, sementara harga di tingkat petani berada pada kisaran menguntungkan.
Ketua Kelompok Tani Muaro Datau Diateh sekaligus Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Sumbar, Amri Ismail, mengatakan hujan jarang, cuaca panas lebih dominan, dan kabut dingin tidak memberi dampak signifikan.
"Makanya produksi bawang merah bagus," katanya kepada tim Jelajah Pangan Sumbar 2025.
Data menunjukkan, produksi bawang merah Sumbar sepanjang 2025 mencapai 226.493 ton dari luas lahan 13.773 hektare.
Puncak produksi terjadi pada November sebesar 23.037 ton, sementara Maret–Juni stabil di kisaran 19 ribu ton.
Titik terendah terjadi Juli–September, sekitar 15 ribu ton. Dari total panen, hanya 12.242 ton diserap pasar Sumbar, sisanya mengalir ke pasar Sumatra dan Jawa.
"Produksi kita sangat melimpah. Kebutuhan Sumbar per bulan hanya sekitar 1.020 ton," jelas Amri.
Kontribusi daerah penyangga seperti Agam, Tanah Datar, Solok Selatan, dan Padang Panjang mencapai sekitar 15%, menjadikan Sumbar sebagai penghasil bawang merah terbesar kedua di Indonesia setelah Brebes.
Kondisi ini menjadi vital ketika Brebes mengalami gagal panen akibat banjir.
"Hasil panen Sumbar siap memasok kebutuhan di Pulau Jawa," kata Amri.
Dukungan Bank Indonesia melalui edukasi teknis dan penyediaan alat pertanian (alsintan) seperti mesin pencacah tanah dan alat penyemprot turut menjaga kualitas produksi sekaligus memperkuat literasi pasar.