Ketua Umum Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI), Yanurius Nunuhitu, menyebut sebagian besar bahan aktif pestisida diimpor dari China dan sensitif terhadap harga minyak dunia.
"Kenaikan harga tidak bisa dihindari karena bahan aktif pestisida kita impor dari China dan hampir semuanya sensitif terhadap harga minyak. Harga bahan aktif sudah naik sejak dimulainya perang," ujarnya.
Selain itu, sebagian besar formulasi pestisida menggunakan pelarut berbasis minyak, sehingga kenaikan harga energi global langsung memengaruhi biaya produksi.
Kemasan plastik, yang hampir seluruh produk pestisida gunakan, juga terdampak.
"Sejak Chandra Asri umumkan force majeure, harga kemasan plastik langsung naik. Hampir 99 persen formulasi pestisida dikemas dalam kemasan plastik," katanya.
Konflik di Timur Tengah, khususnya yang memengaruhi jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Dampaknya menjalar ke sektor bahan kimia dan plastik, sehingga biaya produksi pestisida meningkat.*