BREAKING NEWS
Kamis, 11 Juni 2026

Mentan Amran Jawab Kritik Film Pesta Babi: Harga Beras di Merauke Turun dari Rp30 Ribu Jadi Rp12 Ribu

Johan - Kamis, 11 Juni 2026 20:39 WIB
Mentan Amran Jawab Kritik Film Pesta Babi: Harga Beras di Merauke Turun dari Rp30 Ribu Jadi Rp12 Ribu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (foto: a.amran_sulaiman/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons kritik yang muncul dalam film dokumenter Pesta Babi yang menyoroti proyek ketahanan pangan di Papua.

Ia menegaskan program cetak sawah di Merauke, Papua Selatan, justru berdampak pada penurunan harga beras di daerah tersebut.

Amran mengklaim, harga beras di Merauke turun dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp12.000–Rp13.000 per kilogram setelah program tersebut berjalan.

Baca Juga:

Ia menyebut data itu disampaikan langsung oleh Bupati Merauke dalam rapat di Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

"Itu sekarang Pak Bupati tadi laporkan, 'Pak Menteri terima kasih harga sudah standar seperti daerah lain, Rp12.000–Rp13.000 per kilo," kata Amran.

Menurut Amran, kondisi tersebut menunjukkan bahwa program ketahanan pangan di Papua berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan produksi sekaligus menstabilkan harga pangan di wilayah timur Indonesia.

Ia juga menolak narasi yang menyebut program tersebut sebagai "Pesta Babi".

"Jadi kesimpulannya adalah pesta panen yang kita jalankan," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Amran menjelaskan pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5 triliun dari APBN untuk mencetak 80.000 hektare sawah baru di Papua Selatan.

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan bibit komoditas seperti kakao, kopi, pala, kelapa, sagu, hingga ubi untuk mendukung petani lokal.

Sementara itu, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyebut film Pesta Babi memuat sejumlah catatan terkait pelaksanaan proyek, terutama soal pelibatan masyarakat adat dan aspek lingkungan.

Menurut Apolo, terdapat dua isu utama yang perlu diperhatikan, yakni sosialisasi kepada masyarakat adat serta aspek lingkungan, termasuk analisis dampak lingkungan (Amdal) dan pengelolaan lingkungan hidup.

Ia menegaskan, pelibatan masyarakat lokal tetap menjadi bagian penting dalam proyek tersebut, termasuk dalam rekrutmen tenaga kerja orang asli Papua.

"Social engineering ini sampai pada pelibatan masyarakat adat dan tenaga kerja orang asli Papua," ujarnya.

Meski demikian, Apolo menilai film tersebut tidak menggambarkan seluruh respons masyarakat terhadap proyek strategis nasional di Papua.

Ia menyebut sebagian warga justru menerima kehadiran program tersebut.

Di sisi lain, film Pesta Babi yang telah ditonton jutaan kali itu menyoroti dugaan deforestasi dan dampak lingkungan dari proyek pangan dan energi di Merauke, termasuk pembukaan hutan untuk perkebunan dan peternakan skala besar.*


(km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Direktur Bulog Tinjau Penyaluran Banpang di Sumut, Pastikan Distribusi Beras dan Minyak Berjalan Cepat
Harga Cabai Rawit Masih Tinggi di Angka Rp75.700 per Kg, Telur Ayam dan Beras Cenderung Stabil
Kodim 1710/Mimika Bangun 6 Jembatan Garuda di Tiga Distrik, Akses Warga Papua Tengah Makin Terbuka
JMFF 2026 Resmi Dibuka, Jadi Wadah Sineas Muda Unjuk Karya Film Pendek
Bulog Sumut Pastikan Stok Pangan Aman hingga Akhir Juni 2026, Beras Tersedia 56 Ribu Ton
Wamenkum Jelaskan Alasan Polisi Aktif Bisa Isi Jabatan di Luar Polri
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru