BREAKING NEWS
Minggu, 06 September 2026

Pupuk Indonesia Jajaki Bangun Pabrik Urea di Rusia Berkapasitas 3,5 Juta Ton per Tahun

Nurul - Sabtu, 05 September 2026 22:10 WIB
Pupuk Indonesia Jajaki Bangun Pabrik Urea di Rusia Berkapasitas 3,5 Juta Ton per Tahun
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi usai penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia. (foto: Dok. Pupuk Indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki rencana pengembangan fasilitas produksi pupuk urea di Rusia dengan kapasitas hingga 3,5 juta ton per tahun.

Rencana tersebut merupakan bagian dari penjajakan Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2) di kawasan Primorsky Krai, Rusia.

Proyek ini dinilai berpotensi memperkuat pasokan bahan baku sekaligus memperluas bisnis Pupuk Indonesia ke pasar global.

Baca Juga:

"Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global," kata Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

"Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global," lanjut dia.

Penjajakan proyek tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk melakukan studi bersama atau joint study.

Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, beberapa waktu lalu.

Melalui kerja sama tersebut, Pupuk Indonesia bersama JSC Ruschem akan mengkaji secara menyeluruh peluang pengembangan NFP-2.

Kajian tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari teknis, keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, hingga kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan regulasi.

NFP merupakan proyek kompleks industri berskala global yang mencakup produksi metanol, amonia, dan urea di Primorsky Krai, Rusia Timur.

Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar 2030.

Rahmad mengatakan pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas untuk memproduksi amonia dan urea menjadi salah satu modal perusahaan dalam mengkaji peluang kerja sama tersebut.

Karakteristik NFP yang berbasis gas alam juga dinilai relevan dengan pengalaman dan kompetensi Pupuk Indonesia.

Selain kapasitas produksi, lokasi proyek menjadi salah satu pertimbangan Pupuk Indonesia.

NFP-2 berada di kawasan Vladivostok yang memiliki akses ke Pelabuhan Vladivostok dan menghadap Samudera Pasifik.

Posisi tersebut dinilai berpotensi membuka akses yang lebih luas ke pasar Asia-Pasifik.

"Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia," ujar Rahmad.

Dengan posisi tersebut, proyek di Rusia tidak hanya dipandang sebagai upaya memperkuat kapasitas produksi, tetapi juga sebagai peluang memperluas jangkauan bisnis Pupuk Indonesia di pasar internasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengatakan penjajakan proyek tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11.

Menurut Rosan, kerja sama tersebut membuka peluang investasi global bagi Pupuk Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan bahan baku dan industri nasional.

"Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia," kata Rosan.

"Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita," lanjut Rosan.

Meski telah menandatangani MoU, penjajakan NFP-2 masih berada pada tahap awal. Kesepakatan tersebut belum menjadi keputusan investasi final Pupuk Indonesia.

Perusahaan akan terlebih dahulu menyelesaikan kajian kelayakan dan due diligence.

Proses tersebut dilakukan untuk memastikan proyek memenuhi berbagai aspek, termasuk teknis, ekonomi, pembiayaan, serta risiko investasi.

Dengan demikian, keputusan mengenai realisasi investasi Pupuk Indonesia di proyek NFP-2 masih akan bergantung pada hasil kajian dan proses evaluasi lebih lanjut.* (km/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Lantik Pengurus ICMI Muda Sumut, Wagub Surya: Jangan Cuma Seremonial, Tunjukkan Karya Nyata
Bansos Bakal Cair Tunai, Luhut Ungkap Skema Baru Mulai 2027
Mau Ubah Desil DTSEN agar Sesuai Kondisi Ekonomi? Bisa Lewat HP, Begini Caranya
BUMN Dibabat, Prabowo Targetkan 700 Perusahaan Lagi Ditutup hingga Akhir 2026
10 Gubernur se-Sumatera Bakal Teken Kesepakatan Bersama, Sumut Jadi Penggerak Sinergi Pembangunan
Harga Avtur Naik, Kemenhub Naikkan Batas Fuel Surcharge Tiket Pesawat Jadi 40 Persen
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru