Ketika Negarawan Gagal Menjaga Lidah di Negeri Majemuk
OlehRuben Cornelius SiagianDI republik yang dibangun di atas luka sejarah, katakata seorang tokoh bangsa tidak pernah netral. Ia bisa mene
OPINI
JAKARTA - Temuan mengejutkan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai sekitar 10 juta rekening penerima bantuan sosial (bansos) yang diduga salah sasaran dengan total nilai mencapai Rp2 triliun, menuai sorotan tajam dari berbagai pihak.
Wakil Sekjen Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menyebut kasus ini sebagai potret buruk dari sistem penyaluran bansos yang masih rentan terhadap penyimpangan dan potensi praktik terorganisir.
"Temuan PPATK ini menggambarkan potret sistem penyaluran bansos yang rentan terhadap penyimpangan. Ini mengindikasikan adanya potensi penyimpangan sistemik dan praktik terorganisir yang memanfaatkan celah dalam sistem," tegas Didik melalui akun X miliknya pada Senin, 7 Juli 2025.
Lebih lanjut, Didik menilai bahwa permasalahan ini bukan lagi sekadar soal ketidaktepatan sasaran, melainkan sudah mengarah pada penyalahgunaan dana bansos yang sangat bertentangan dengan tujuan utama program bantuan tersebut.
Ia menduga bahwa lemahnya sistem verifikasi, pengawasan yang tidak memadai, serta kurangnya koordinasi antar lembaga menjadi faktor utama penyebab kekacauan ini.
Didik pun mendorong dilakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem penyaluran bansos. Ia menekankan pentingnya:
Peningkatan akurasi data penerima,
Penguatan sistem pengawasan pasca-penyaluran, dan
Pemanfaatan teknologi untuk mendeteksi anomali transaksi secara real-time.
Tak hanya itu, Didik juga mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh proses penyaluran bansos, mulai dari tahap seleksi hingga distribusi dana ke masyarakat.
"Kolaborasi lintas instansi dan transparansi adalah kunci agar bansos benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan," tegasnya.
Publik kini menanti langkah konkret dari pemerintah untuk menindaklanjuti temuan ini dan memastikan dana rakyat tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.*
OlehRuben Cornelius SiagianDI republik yang dibangun di atas luka sejarah, katakata seorang tokoh bangsa tidak pernah netral. Ia bisa mene
OPINI
JAKARTA Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan pengalamannya saat masih menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB
NASIONAL
JAKARTA Ketua Umum Gerakan Pemuda Ka&039bah (GPK) Imam Fauzan A. Uskara membantah tudingan adanya pemecatan massal ratusan pengurus Dewa
POLITIK
JAKARTA PT Pertamina International Shipping (PIS) menyatakan dua kapalnya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih berada di kawa
NASIONAL
JAKARTA Politikus PAN Surya Utama alias Uya Kuya melaporkan dugaan penyebaran berita bohong yang mencatut namanya ke Polda Metro Jaya. Lap
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Google dilaporkan menggandeng perusahaan kacamata EssilorLuxottica untuk memperkuat pengembangan kacamata pintar berbasis Android
SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menargetkan penyelesaian seluruh berkas layanan pertanaha
NASIONAL
JAKARTA Terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor), Kamser Maroloan Sitanggang, menyampaikan surat terbuka kepada Komisi III
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Gelombang kejahatan penipuan atau scam di sektor keuangan digital kian mengkhawatirkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat to
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menekankan pentingnya pemikiran geopolitik dalam menjaga arah dan kepenting
POLITIK