BREAKING NEWS
Jumat, 12 Juni 2026

Rudy Hermanto: Ada "Playing Victim" di Spanduk SARA, Hasyim Sebaiknya Lapor ke Polisi

Raman Krisna - Sabtu, 27 September 2025 21:18 WIB
Rudy Hermanto: Ada "Playing Victim" di Spanduk SARA, Hasyim Sebaiknya Lapor ke Polisi
Rudy Hermanto: Ada "Playing Victim" di Spanduk SARA, Hasyim Sebaiknya Lapor ke Polisi (foto : bitv)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Kader senior PDIP Sumut Rudy Hermanto menilai ada dugaan kuat "playing victim" di balik pemasangan spanduk berbau SARA di kantor lama DPC PDIP di kawasan Medan Petisah. Tujuannya sangat kentara untuk mendiskreditkan salah satu calon ketua DPC, dan di sisi lain untuk mendapatkan efek simpati kepada calon lainnya.

Namun disebutnya, permainan "playing victim" ini sangat mudah ditebak sehingga tidak ada kader yang terpengaruh dengan penggiringan opini dari pemasangan spanduk SARA dimaksud.

Baca Juga:
"Isu SARA jelas tidak jalan di PDIP, sebagai partai penjaga demokrasi, pluralisme dan sudah teruji dalam sejarah menjadi garda terdepan dalam merawat keberagaman di NKRI.

Sudah pasti pelaku pemasangan spanduk SARA adalah bukan kader, tetapi penyusup yang sengaja diciptakan untuk memancing di air keruh," tegas Rudy Hermanto saat diminta wartawan tanggapannya, Sabtu (27/9) di Medan.

Rudy Hermanto menyebut karena pemasangan poster SARA telah ramai dibincangkan di ruang publik, maka sebaiknya DPC PDIP Medan melakukan pengusutan termasuk melaporkan ke pihak kepolisian. Agar bisa dipastikan apakah benar poster dimaksud terpasang di depan kantor lama DPC, atau sekedar rekayasa foto belaka yang kemudian dieskpos ke media sosial.

Termasuk dengan melakukan klarifikasi kepada seorang yang memperlihatkan foto spanduk SARA tersebut di akun media sosialnya. Jika pihak DPC PDIP tidak melaporkan atau melakukan investigasi justru bisa dianggap melakukan pembiaran terhadap sebuah kegiatan yang jelas merugikan nama partai.

"Sudah banyak kader dan pengurus PAC yang bersuara meminta DPC untuk melapor ke kepolisian. Saya kira Hasyim selaku Ketua DPC harus menyahuti ini agar tidak muncul dugaan pembiaran terhadap praktik 'playing victim' yang merugikan partai," tegasnya.

INTIMIDASI DAN TEROR

Baca Juga:
Mantan anggota DPRDSU ini juga menyesalkan adanya intimidasi serta teror yang disebut-sebut menimpa Sekretaris PAC Medan Amplas Emil Pane serta terhadap dua anggota DPRD Medan usai viralnya Surat Terbuka Kader ke Ketua Umum PDIP terkait aspirasi regenerasi DPC PDIP Medan.

Beredar informasi bahwa Emil Pane mendapat teror berupa telepon dari orang tak dikenalnya serta pesan bernada ancaman berisi larangan untuk tidak melanjutkan narasi regenerasi. Selain itu, dua anggota DPRD Medan yang namanya ada diusulkan menjadi calon ketua DPC yakni Paul Mei Anton Simanjuntak, serta Margareth MS, disebut-sebut dipaksa membuat surat pernyataan di atas meterai mengumumkan tidak setuju dan tidak mengetahui sama sekali akan keberadaan Surat Terbuka.

"Saya kira jika benar ada ancaman dan intimidasi pasca beredarnya surat terbuka kader kepada Ibu Mega, itu menjadi masalah serius.

Tidak tertutup kemungkinan DPP melakukan investigasi untuk mengetahui siapa yang melakukan ancaman dan teror itu," ucapnya.

Rudy Hermanto berharap dalam kontestasi pemilihan Ketua DPC Medan semua calon dan pendukung untuk memperlihatkan kedewasaan berdemokrasi. Derasnya arus tuntutan regenerasi adalah sesuatu yang alami mengingat kepemimpinan Hasyim yang sudah 2 periode.

"Saya kira Hasyim tidak perlu ngotot untuk mempertahankan jabatannya sebagai ketua DPC. Dia harus melihat realitas yang ada bahwa kuatnya keinginan pergantian adalah harapan kader demi kebesaran PDIP di Kota Medan," katanya.*

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru