BREAKING NEWS
Jumat, 12 Juni 2026

Modal Asing Kembali Masuk, Rupiah Lepas dari Tekanan Rp18.000 per Dolar AS

Adelia Syafitri - Jumat, 12 Juni 2026 09:15 WIB
Modal Asing Kembali Masuk, Rupiah Lepas dari Tekanan Rp18.000 per Dolar AS
Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Foto: Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA– Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan setelah aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50 persen guna menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat daya tarik investasi domestik.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga acuan mendapat respons positif dari investor global. Respons tersebut terlihat dari meningkatnya minat investor asing terhadap berbagai instrumen keuangan yang diterbitkan pemerintah dan Bank Indonesia.

"Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), investor asing merespons positif bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia," kata Denny dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.

Baca Juga:

Menurut Denny, peningkatan minat investor terlihat dari masuknya dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) setelah pelaksanaan lelang pada 10 Juni 2026. Selain itu, aliran modal asing juga mulai kembali mengalir ke pasar Surat Berharga Negara, khususnya pada tenor pendek dan menengah.

Masuknya dana investasi asing tersebut memberikan sentimen positif bagi pergerakan rupiah yang sebelumnya sempat tertekan akibat ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat.

Bank Indonesia menilai penguatan aliran modal asing menjadi salah satu faktor yang membantu rupiah keluar dari tekanan level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini sekaligus memberikan sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan akan tetap mewaspadai perkembangan pasar keuangan global yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Denny mengatakan bank sentral akan terus menjaga stabilitas pasar keuangan melalui berbagai instrumen kebijakan yang telah disiapkan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi gejolak nilai tukar dan menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

"Kami akan terus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik sekaligus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga," ujarnya.

Sebelumnya, rupiah sempat mengalami tekanan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS akibat kombinasi faktor eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik global dan pergerakan arus modal internasional. Namun dengan mulai masuknya kembali modal asing ke Indonesia, tekanan terhadap mata uang Garuda berangsur mereda.

Pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, rupiah tercatat ditutup di level Rp17.988 per dolar AS. Meski masih mengalami pelemahan tipis dibandingkan perdagangan sebelumnya, posisi tersebut menunjukkan rupiah berhasil bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tampil di EnviroTech 2026, INALUM Dorong Masa Depan Green Aluminium Indonesia
Di Hadapan 22 Ribu Suporter, Garuda Muda Gagal Wujudkan Tiket Final AFF U-19
Garuda Muda Tumbang 0-1 dari Australia, Gagal ke Final AFF U-19 2026
Timnas Indonesia U-19 Gagal ke Final Piala AFF Usai Takluk 0-1 dari Australia
Saat BBM Nonsubsidi Naik di Tengah Rupiah Melemah
Indonesia vs Australia Imbang 0-0 di Babak Pertama
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru