JAKARTA — Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengkritik keras pihak-pihak yang memelesetkan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) menjadi "Satuan Penjilat Prabowo-Gibran".
Ia menilai sebutan tersebut tidak berbasis fakta dan mencerminkan rendahnya nalar publik di ruang digital.
Hasan mengatakan, media sosial saat ini kerap dipenuhi sikap sinis yang berkembang lebih cepat dibanding verifikasi informasi.
Akibatnya, menurut dia, publik mudah terjebak pada narasi yang tidak akurat.
"Ada orang yang bilang SPPG itu adalah satuan penjilat Prabowo-Gibran. Nah, ini kan sok paten juga, nalarnya di-diskon juga ini," kata Hasan dalam unggahan video di akun Instagramnya, Senin (1/6/2026).
Ia menegaskan SPPG merupakan bagian dari ekosistem program pemenuhan gizi nasional yang menyasar sekitar 62 juta penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui di berbagai daerah.
Selain aspek sosial, Hasan menyebut program tersebut juga berdampak pada sektor ekonomi karena menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja yang terlibat dalam operasional dapur pelayanan gizi.
Karena itu, ia menilai tuduhan yang menyebut SPPG sebagai alat politik bukan hanya keliru, tetapi juga merendahkan jutaan pekerja serta penerima manfaat program tersebut.
"Kalau dia bilang SPPG itu satuan penjilat Prabowo-Gibran, berarti dia sedang mengata-ngatai 1,5 juta warga Indonesia yang bekerja di dapur SPPG," ujarnya.
Hasan mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang publik.
Ia menilai, tanpa verifikasi, opini bisa dengan mudah bergeser menjadi disinformasi.
Ia mengibaratkan informasi seperti makanan yang harus diproses dengan benar sebelum diterima.
"Cari dulu faktanya, ini benar atau tidak. Jangan sampai nalar kita dipotong-potong," katanya.
Hasan juga menegaskan bahwa perdebatan publik sebaiknya tidak dibangun di atas kemarahan atau kebencian.
Menurut dia, stabilitas sosial hanya bisa dijaga melalui persatuan dan sikap kritis yang berbasis data.
"Negara kita tidak dibangun dengan kemarahan, tidak dengan kebencian. Tapi dengan persatuan dan kesatuan," ujarnya.*