BREAKING NEWS
Kamis, 06 Agustus 2026

Rakyat dan Petani Jadi Korban, Pengamat Desak Evaluasi Total TAPA Aceh

T.Jamaluddin - Kamis, 06 Agustus 2026 07:31 WIB
Rakyat dan Petani Jadi Korban, Pengamat Desak Evaluasi Total TAPA Aceh
Pengamat kebijakan publik sekaligus akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nasrul Zaman. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Pengamat kebijakan publik sekaligus akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nasrul Zaman, menilai lambatnya realisasi anggaran di Pemerintah Aceh telah berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama petani dan korban bencana yang membutuhkan penanganan cepat. Ia bahkan mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA).

Menurut Nasrul, narasi yang menyebut minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap petani dan masyarakat terdampak bencana di Aceh tidak sepenuhnya tepat. Sebab, anggaran sebesar Rp1,6 triliun disebut telah dialokasikan pemerintah pusat, namun pelaksanaannya dinilai tersendat pada tahap eksekusi di tingkat daerah.

"Ini bukan lagi soal tengsin politik antarpejabat, melainkan soal hak-hak petani Aceh yang terabaikan akibat kelumpuhan kinerja birokrasi," kata Dr. Nasrul Zaman kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga:

Ia menilai masyarakat memiliki alasan untuk kecewa apabila anggaran yang telah tersedia tidak mampu diwujudkan menjadi program nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menurutnya, keterlambatan pelaksanaan program menjadi indikasi perlunya pembenahan dalam tata kelola birokrasi, termasuk evaluasi terhadap kinerja Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA).

"Publik berhak kecewa ketika anggaran yang tersedia gagal ditransformasikan menjadi bantuan dan pembangunan nyata. Kegagalan TAPA dalam mengawal program ini merupakan indikasi kuat dibutuhkannya penyegaran kepemimpinan birokrasi," ujarnya.

Nasrul menegaskan, Aceh tidak boleh terus terhambat oleh persoalan teknis di internal pemerintahan. Ia berharap pembenahan struktural segera dilakukan agar anggaran negara benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani.

"Aceh tidak boleh terus tersandera oleh ketidakmampuan teknis pejabatnya. Pembenahan struktural harus segera dilakukan agar anggaran negara benar-benar bekerja untuk kesejahteraan petani, bukan sekadar menjadi angka di atas kertas," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar persoalan pengelolaan anggaran di tingkat daerah tidak menimbulkan persepsi seolah-olah pemerintah pusat mengabaikan kepentingan masyarakat Aceh.

"Ketidakmampuan pengelolaan anggaran oleh Pemerintah Aceh jangan sampai menjadi benturan seolah-olah pemerintah pusat yang abai pada rakyat Aceh. Kita tidak mau melihat gubernur bahkan rakyat menjadi korban dari minimnya kapasitas Sekda Aceh," pungkasnya.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kapasitas Terjun ke 220 MW, Pemerintah Suntik Rp4,8 Triliun Selamatkan PLTP Sarulla
Viral! PNS Tapanuli Utara Mengaku Dipecat Usai Tuntut TPP, Wakil Bupati Buka Suara
Pemprov Sumut Dukung Gerakan Penghijauan HKBP, 20 Ribu Bibit Pohon Siap Ditanam di Tapanuli Raya
Walhi Sumut Kecewa Gugatan Intervensi Ditolak PN Medan, Sebut Dampak Kerusakan PT TPL Tak Terbatas di Satu Lokasi
BNPB Percepat Penanganan Banjir Tapanuli Tengah, Fokus Perbaikan Tanggul dan Normalisasi Sungai
Tiga Pejabat Kabupaten Asahan Ikuti PKN Tingkat II 2026, Perkuat Kepemimpinan Hadapi Bencana dan Daya Saing Daerah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru