Namun, melalui kerja keras dan ketekunan Hj. Wirda Hanim, batik unik ini berhasil dibangkitkan kembali dan kini dikenal luas sebagai simbol kebanggaan budayaMinangkabau.
Kisah ini bermula pada 1993 di Kenagarian Sumanik, Kabupaten Tanah Datar.
Saat menghadiri acara adat, Hj. Wirda melihat BatikTanah Liek kuno yang dikenakan para Datuak dan Bundo Kanduang tampak kusam, lapuk, bahkan sobek.
Ternyata, produksi batik ini telah terhenti selama 70 tahun.
Meski tanpa pengalaman membatik, Hj. Wirda bertekad menghidupkan kembali kain tradisional ini.
Ia menempuh berbagai upaya, mulai dari menyalin motif kuno secara manual hingga melakukan pelatihan mandiri dan eksperimen warna.
Pada 1995, Hj. Wirda pergi ke Yogyakarta untuk belajar teknik membatik. Tantangan terbesar adalah meniru warna khas BatikTanah Liek.
Selama berbulan-bulan, meski dibantu pengajar profesional, hasilnya belum memuaskan.
Titik terang muncul saat Hj. Wirda bereksperimen dengan pewarna alami dan tanah liat setempat, hingga akhirnya menciptakan BatikTanah Liek "Citra Monalisa" yang mendekati warna asli.
Rahasia warna alami terungkap saat Hj. Wirda bertanya kepada sesepuh kampung: batik ini menggunakan tanah liat (tanah liek), gambir, rambutan, pinang, dan bahan lokal lainnya.
Butuh 10 tahun percobaan hingga BatikTanah Liek autentik berhasil diproduksi dan dipatenkan.