Dalam situasi ini, Jamin Ginting memegang peranan penting sebagai komandan pasukan yang setia kepada pemerintah pusat.
Kesuksesannya dalam menghadapi pemberontakan tersebut mendorongnya untuk naik pangkat dan menduduki beberapa posisi penting di militer, termasuk Panglima Kodam I/Bukit Barisan.
Di sana, ia menjalankan tugas kenegaraan dengan penuh dedikasi dan mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Kanada.
Namun, pada 23 Oktober 1974, Jamin Ginting wafat di Ottawa, Kanada, saat masih menjabat sebagai Duta Besar.
Jenazahnya dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Jamin Ginting dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2014.
Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Karo dan Sumatera Utara, karena perjuangan salah satu putra daerah mereka akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Warisan kepahlawanan Jamin Ginting tidak hanya dalam bentuk nama jalan atau tugu peringatan, tetapi juga dalam nilai-nilai yang ia wariskan: keberanian, kesetiaan kepada negara, dan semangat juang yang tak kenal menyerah.
Banyak generasi muda Karo yang menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk terus berkontribusi bagi bangsa, baik dalam militer, pemerintahan, maupun kehidupan sosial.
Jamin Ginting adalah simbol perjuangan rakyat Karo dan pahlawan sejati Indonesia.