BREAKING NEWS
Rabu, 18 Maret 2026

Ansyari Lubis, Gelandang Jenius yang Dijuluki “Maradona dari Medan”

Indra Saputra - Senin, 22 September 2025 11:33 WIB
Ansyari Lubis, Gelandang Jenius yang Dijuluki “Maradona dari Medan”
Ansyari Lubis. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN – Dalam sejarah panjang sepak bola Indonesia, nama Ansyari Lubis tercatat sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.

Lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 29 Juli 1970, Ansyari dikenal dengan visi bermain yang tajam, umpan-umpan akurat, serta kemampuannya dalam mengatur tempo permainan dari lini tengah.

Sosoknya menjadi inspirasi bagi banyak pesepak bola muda Indonesia, khususnya mereka yang tumbuh besar di era 1990-an hingga awal 2000-an.

Baca Juga:
Ansyari Lubis tumbuh di lingkungan yang sarat dengan atmosfer sepak bola. Sejak usia dini, bakatnya sudah menonjol.

Ia mengawali perjalanan profesionalnya bersama PSMS Medan, klub legendaris asal Sumatera Utara.

Kemampuan Ansyari dalam membaca permainan dan mengendalikan bola dengan kaki kiri yang dominan membuatnya cepat mencuri perhatian publik sepak bola nasional.

Tak butuh waktu lama, ia menjelma menjadi pemain kunci di timnya.

Nama Ansyari Lubis mulai bersinar di pentas nasional ketika memperkuat Tim Nasional Indonesia pada awal dekade 1990-an.

Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya adalah saat tampil di ajang Piala Tiger 1996 (kini AFF Cup), di mana Indonesia berhasil mencapai final sebelum dikalahkan Thailand lewat adu penalti.

Dalam turnamen itu, Ansyari menjadi motor penggerak lini tengah, berkolaborasi dengan nama-nama besar seperti Kurniawan Dwi Yulianto dan Widodo Cahyono Putro.

Perannya sebagai playmaker sangat vital, menjadi pengatur serangan sekaligus penghubung antar lini.

Ia juga tercatat memperkuat Merah Putih di berbagai ajang internasional lainnya seperti SEA Games dan Pra-Piala Dunia, menjadikannya sebagai salah satu pemain paling berpengalaman di eranya.

Gaya bermain Ansyari yang mengedepankan teknik tinggi, kemampuan menggiring bola, dan visi luar biasa, membuat banyak pengamat menjulukinya sebagai "Maradona dari Medan."

Julukan ini tidaklah berlebihan. Meski bertubuh mungil, Ansyari mampu mendominasi lini tengah berkat kecerdasan, kelincahan, dan determinasi tinggi.

Ia menjadi bukti bahwa pemain dengan postur tidak besar tetap bisa bersinar, asalkan memiliki kualitas teknik dan etos kerja yang luar biasa.

Sepanjang kariernya, Ansyari Lubis tak hanya membela PSMS Medan, namun juga memperkuat sejumlah klub elite Indonesia seperti Persib Bandung, Pelita Jaya, Persebaya Surabaya, hingga Persija Jakarta.

Meski sempat berkelana ke berbagai klub, PSMS Medan tetap menjadi rumah sejatinya.

Ia tercatat beberapa kali kembali ke klub kampung halamannya itu hingga mendekati akhir karier sebagai pemain.

Usai pensiun, Ansyari Lubis tidak meninggalkan dunia sepak bola. Ia melanjutkan pengabdiannya sebagai pelatih, baik di level junior maupun senior.

Ia sempat menjadi asisten pelatih PSMS Medan dan dipercaya menangani sejumlah tim di berbagai kompetisi nasional.

Melalui peran barunya ini, Ansyari ingin membagikan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi muda, khususnya anak-anak Medan yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional.*

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dramatis! PSMS Curi Poin Lewat Gol Menit Akhir di Kandang PSPS, Imbang 3-3
Mother Station CNG Pertama di Medan! Dukung Akses Energi Lebih Murah dan Ramah Lingkungan
Hujan Tak Surutkan Semangat Warga Medan Rayakan World Cleanup Day 2025
Wakil Wali Kota Medan Tegas: Camat hingga Kepling Wajib Pemetaan Zona Narkoba, Jika Lalai Akan Dicopot!
Terdakwa TPPO ART ke Malaysia Dituntut 9 Tahun Penjara, Diminta Bayar Restitusi ke Korban
Rutan Kelas I Medan Gelar Skrining Tuberkulosis untuk 200 Warga Binaan, Dukung Eliminasi TB 2030
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru