Ketegangan politik Bangladesh memuncak pada Juli–Agustus 2024, ketika demonstrasi mahasiswa pecah di berbagai kota.
Gelombang protes yang bermula dari tuntutan reformasi sistem kuota pekerjaan berubah menjadi kerusuhan nasional setelah aparat keamanan diturunkan dalam skala besar.
Saksi dan kelompok HAM mendokumentasikan puluhan hingga ratusan korban, sementara pemerintah saat itu membantah menggunakan kekuatan berlebihan.
Pada 5 Agustus 2024, Hasina meninggalkan Dhaka menuju India melalui helikopter militer.
Hari itu juga, kekuasaannya berakhir.
Pemerintah transisi yang dipimpin ekonom peraih Nobel, Muhammad Yunus, kemudian menyatakan Hasina sebagai buron negara.
Namun, kubu Hasina menyebut keberangkatannya bukan pelarian, melainkan "pemindahan paksa" akibat situasi yang tak lagi kondusif.
Tuduhan Berlapis: Dari Kejahatan Kemanusiaan hingga Penghinaan Pengadilan
Pengadilan ICT mengajukan lima dakwaan utama terhadap Hasina:
pembunuhan massal,
penyiksaan,
penghilangan paksa (enforced disappearances),
penggunaan senjata mematikan terhadap warga sipil,
serta tanggung jawab komando atas operasi keamanan.
Dakwaan ini disusun dalam dokumen lebih dari 8.000 halaman, berisi testimoni korban, bukti digital, hingga rekaman lapangan.
Pada Juli 2025, Hasina lebih dulu dijatuhi hukuman enam bulan penjara atas tuduhan penghinaan pengadilan dalam perkara terpisah.
Vonis dijatuhkan in absentia setelah pengadilan memverifikasi keaslian rekaman audio yang memuat suara perempuan diduga Hasina mengatakan, "Saya punya 227 kasus, maka saya juga punya lisensi membunuh 227 orang." Pihak Hasina membantah suara itu miliknya.
Menjelang Pembacaan Putusan
ICT menetapkan sidang putusan kasus "kerusuhan Juli" diumumkan pada 17 November 2025.
Penjagaan di sekitar kompleks pengadilan telah ditingkatkan.
Polisi, militer, dan unit penanggulangan terorisme bersiaga di Dhaka untuk mengantisipasi kemungkinan kericuhan.
Tiga hakim yang memimpin panel ICT Golam Mortuza Mozumder, Shafiul Alam Mahmood, dan Mohitul Haque Enam Chowdhury menyatakan bahwa pengadilan telah mengevaluasi seluruh bukti, termasuk rekaman drone dan perintah operasi pasukan keamanan saat Hasina masih menjabat.
Pihak penuntut menuntut hukuman maksimal.
Sementara itu, tim pembela yang ditunjuk negara berargumen bahwa proses ini sarat tekanan politik dan tidak memenuhi standar pembuktian untuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dinamika Politik yang Membelah
Partai Awami League partai yang dibesarkan Hasina kini berada dalam posisi terpojok setelah pemerintah transisi melarang seluruh kegiatan politik mereka.
Para loyalis menyebut persidangan ini sebagai "penghakiman politik berkedok hukum", sementara kubu pemerintah menegaskan bahwa kasus ini merupakan langkah korektif setelah puluhan tahun kekuasaan otoriter.
Di India, tempat Hasina berlindung sejak Agustus tahun lalu, proses lobi dan tekanan diplomatik terus berlangsung.
Namun, hingga kini New Delhi belum memberikan sinyal akan mengekstradisi Hasina ke Bangladesh.
Babak Penentu
Pembacaan putusan ini menjadi titik balik penting bagi Bangladesh.
Jika bersalah, Hasina yang pernah memimpin negara selama lebih dari 15 tahun akan mencatat sejarah sebagai kepala pemerintahan pertama Bangladesh yang dijatuhi hukuman dalam kasus kejahatan terhadap kemanusiaan.
Jika bebas, keputusan itu dapat mengguncang pemerintah transisi dan memicu gelombang politik baru.
Bangladesh bersiap menyambut hari yang disebut banyak analis sebagai "pengadilan terpenting abad ini" bagi negara berpenduduk 170 juta jiwa itu.*