BREAKING NEWS
Sabtu, 08 Agustus 2026

Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution: Gubernur Pertama Sumut yang Lahir di Aceh

Adelia Syafitri - Minggu, 14 Juni 2026 08:36 WIB
Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution: Gubernur Pertama Sumut yang Lahir di Aceh
Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution. (foto: Dok. Unimed)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Nama Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution mungkin tidak sepopuler sejumlah tokoh nasional lain dalam sejarah Indonesia.

Namun, jejak pengabdiannya dalam dunia hukum, perjuangan kemerdekaan, dan pemerintahan menjadikannya salah satu tokoh penting yang turut membentuk perjalanan bangsa.

Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sutan Mohammad Amin Nasution pada 10 November 2020.

Baca Juga:

enghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan serta membangun pemerintahan Indonesia di masa awal republik.

Sutan Mohammad Amin Nasution lahir di Lhok Nga, Aceh Besar, pada 22 Februari 1904. Ia berasal dari keluarga Batak Mandailing.

Ayahnya, Mohammad Taif Nasution, bertugas sebagai kepala sekolah pada masa pemerintahan kolonial Belanda sehingga keluarga mereka menetap di Aceh.


Sejak usia muda, Amin Nasution dikenal memiliki kemampuan akademik yang menonjol.

Ia menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS) di sejumlah daerah sebelum menyelesaikan pendidikan di Tanjung Pinang pada 1918.

Perjalanan intelektualnya berlanjut ke STOVIA di Batavia. Namun minatnya lebih besar pada bidang sosial dan hukum.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MULO dan AMS Yogyakarta. Di kota pelajar itu, Amin Nasution berinteraksi dengan sejumlah tokoh muda nasionalis, termasuk Mohammad Yamin.

Persahabatan tersebut semakin memperkuat semangat kebangsaannya.

Ia kemudian melanjutkan studi hukum di Rechts Hogeschool Batavia, yang kini dikenal sebagai cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Selain menempuh pendidikan hukum, Amin Nasution aktif dalam organisasi pemuda dan menjadi bagian dari gerakan kebangsaan yang mendorong persatuan Indonesia.

Ia tercatat sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

Setelah meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), Amin Nasution menolak tawaran menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda.

Ia memilih berprofesi sebagai advokat di Kutaraja, Aceh, dan banyak membela kepentingan masyarakat.

Pada masa pendudukan Jepang, Amin Nasution dipercaya menjadi hakim di Sigli, Aceh.

Ketegasannya dalam menegakkan hukum membuat namanya dikenal luas.

Ia juga aktif dalam dunia pendidikan dan mendorong lahirnya semangat nasionalisme di kalangan pelajar.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Amin Nasution mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk memimpin wilayah Sumatera Utara sebagai Gubernur Muda.

Jabatan tersebut mencakup wilayah Aceh, Tapanuli, dan Sumatera Timur.

Karier politiknya mencapai puncak ketika Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Gubernur Sumatera Utara pertama pada 19 Juni 1948.

Di tengah situasi perang mempertahankan kemerdekaan, ia mengambil berbagai langkah strategis, termasuk menerbitkan Uang Republik Indonesia Sumatera Utara (URISU) guna menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Selain memimpin Sumatera Utara selama dua periode, Amin Nasution juga dipercaya menjadi Gubernur Riau pertama pada periode 1958 hingga 1960.

Di bidang hukum, namanya dikenang sebagai salah satu intelektual hukum Indonesia.

Ia menulis sedikitnya 15 buku yang membahas berbagai aspek hukum dan pemerintahan.

Pemikiran-pemikirannya turut memberikan kontribusi bagi perkembangan hukum nasional pada masa awal kemerdekaan.

Atas jasa-jasanya, Amin Nasution menerima berbagai penghargaan negara, di antaranya Bintang Mahaputera Adipradana, Bintang Jasa Utama, Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, serta gelar Pahlawan Nasional.

Warisan perjuangan Sutan Mohammad Amin Nasution tidak hanya tercermin dalam jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga dalam semangat pendidikan, nasionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat yang terus relevan hingga saat ini.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa pendidikan, integritas, dan kecintaan terhadap tanah air merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa.*


(dpl/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Daftar Lengkap UMK Sumut 2026: Kota Medan Tertinggi, Tembus Rp4,3 Juta!
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Minggu 14 Juni 2026: Sebagian Wilayah Hujan Disertai Petir
Mutasi Besar di Polresta Banda Aceh, Tiga Perwira Resmi Jabat Kasat di Polres Jajaran Polda Aceh
Pemerintah Siapkan KPR Tenor 40 Tahun, Cicilan Rumah Bisa Lebih Ringan
Gerindra Sebut Pemerintahan Prabowo Sudah Jalankan Tuntutan Mahasiswa Sejak Awal
Aksi Mahasiswa Dituding Ditunggangi Pihak Tertentu, BEM UI Bantah: Sebut Saja Namanya, Jangan Sekadar Asumsi!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru