Bundaran HI Jadi Pusat Demo Hari Ini, Ini Isi Tuntutan 11+9 Mahasiswa!
JAKARTA Sejumlah organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indone
PERISTIWA
MEDAN – Nama dr. Ferdinand Lumban Tobing mungkin tidak sepopuler sejumlah tokoh nasional lainnya.
Namun, sosok kelahiran Tapanuli ini memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.
Selain dikenal sebagai dokter, Ferdinand Lumban Tobing juga tercatat sebagai pejuang kemerdekaan, tokoh politik, mantan Gubernur Sumatera Utara, Menteri Penerangan Republik Indonesia, hingga dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.Baca Juga:
Berikut sejumlah fakta menarik tentang perjalanan hidup dr. Ferdinand Lumban Tobing.
Lahir di Tapanuli dan Menempuh Pendidikan Kedokteran
Ferdinand Lumban Tobing lahir di Sibuluan, Tapanuli, pada 19 Februari 1899.
Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara pasangan Herman Lumban Tobing dan Laura Sitanggang.
Sejak kecil, Ferdinand dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi.
Pada usia lima tahun, ia dibawa ke Depok oleh ayah angkatnya, Jonathan Pasanea, dan mengenyam pendidikan di sekolah dasar Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Ferdinand melanjutkan studi di STOVIA, sekolah kedokteran bergengsi pada masa Hindia Belanda yang banyak melahirkan tokoh pergerakan nasional.
Lulus pada tahun 1924, ia mulai berkarier sebagai dokter di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) Jakarta yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Dari Dokter Menjadi Tokoh Politik
Perjalanan hidup Ferdinand berubah ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942.
Saat itu, ia membantu mengobati seorang perwira polisi militer Jepang yang terluka.
Peristiwa tersebut membuka jalan baginya untuk terlibat dalam pemerintahan daerah.
Ferdinand kemudian dipercaya menjadi Ketua Badan Perwakilan Daerah di Keresidenan Tapanuli.
Meski mulai aktif dalam dunia politik dan pemerintahan, ia tetap menjalankan profesinya sebagai dokter yang melayani masyarakat.
Berperan dalam Pengalihan Kekuasaan Pasca Proklamasi
Salah satu jasa terbesar Ferdinand Lumban Tobing terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Ketika pemerintah pusat meminta pembentukan pemerintahan Republik Indonesia di Tapanuli, kondisi saat itu masih rumit karena tentara Jepang masih berada di wilayah tersebut.
Dengan pendekatan yang hati-hati dan diplomatis, Ferdinand berhasil memindahkan kekuasaan pemerintahan di Keresidenan Tapanuli kepada Republik Indonesia tanpa menimbulkan konflik besar.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi pemerintahan Indonesia di wilayah Sumatera.
Mengeluarkan Orita untuk Membantu Rakyat
Pada masa perang kemerdekaan, Tapanuli menjadi salah satu daerah tujuan pengungsian masyarakat dari berbagai wilayah yang terdampak konflik.
Melihat kondisi tersebut, Ferdinand yang saat itu menjabat Residen Tapanuli dan Ketua Dewan Pertahanan Daerah mengambil langkah penting dengan mencetak Orita atau Oeang Republik Indonesia Tapanuli.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mempermudah transaksi ekonomi masyarakat sekaligus membantu para pengungsi yang datang ke wilayah Tapanuli.
Menjabat Gubernur Sumut dan Menteri Penerangan
Karier politik Ferdinand terus berkembang setelah Indonesia merdeka. Ia dipercaya menjadi Gubernur Sumatera Utara kedua pada periode 1948 hingga 1950.
Tak hanya itu, pada 1953 ia diangkat menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I.
Pada periode yang sama, Ferdinand juga sempat merangkap sebagai Menteri Kesehatan ad interim sebelum akhirnya fokus menjalankan tugas sebagai Menteri Penerangan.
Diangkat Menjadi Pahlawan Nasional
Dr. Ferdinand Lumban Tobing wafat di Jakarta pada 7 Oktober 1962 dalam usia 63 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di Kolang Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 361 Tahun 1962.
Nama Ferdinand Lumban Tobing juga diabadikan menjadi nama rumah sakit umum di Sibolga serta bandar udara di Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Hingga kini, sosok dr. Ferdinand Lumban Tobing dikenang sebagai dokter pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan, pembangunan daerah, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.*
(dwp/ad)
JAKARTA Sejumlah organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indone
PERISTIWA
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum memastikan adanya efisiensi anggaran dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah
EKONOMI
JAKARTA Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti kasus dugaan suap terkait hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyeret Bu
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi kini tidak lagi menjadi satusatunya moda
NASIONAL
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) masih mendalami peran mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, dalam kasus dugaan
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) memperluas penyelidikan dugaan korupsi dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan me
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Kejaksaan Agung menyerahkan uang tunai hasil pemulihan aset dan lelang barang rampasan negara senilai Rp1.029.874.376.628 kepada K
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan akan menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam penanganan kasus dugaan koru
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Republik Federal Jerman FrankWalter Steinmeier tiba di Jakarta dalam rangka kunjungan resmi kenegaraan dan akan bertemu
NASIONAL
MEDAN Sejumlah elemen mahasiswa di berbagai daerah dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa pada Senin, 15 Juni 2026. Aksi tersebut berlangsu
PERISTIWA