SUKABUMI -Sebagai seorang guru di SDN Cibadak, Leni Sumarni, berusia 40 tahun, tidak hanya mengajar, tetapi juga menghadapi tantangan yang menggetarkan hati di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Kisahnya bukanlah cerita biasa, melainkan perjalanan hidup penuh dengan perjuangan dan ketabahan dalam menghadapi jembatan miring yang menjadi penghubung vital di wilayahnya.
Leni Sumarni, dalam wawancara , menceritakan betapa jembatan miring Sungai Cikaso telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya sejak tahun 2003. Sebagai seorang gadis lulus SMA yang baru memulai pengabdian sebagai guru, ia telah mengalami berbagai fase jembatan tersebut dari jembatan bambu yang rapuh hingga jembatan gantung besi yang nyaris putus kini.
“Dulu jembatan ini terbuat dari kayu bambu, sering kali hanyut terbawa banjir. Saya bahkan pernah menyeberangi sungai ini saat air meluap hingga mencapai dada, bahkan ketika saya hamil tujuh hingga sembilan bulan,” ungkap Leni dengan suara yang penuh pengalaman.
Kenangan pahit Leni terungkap saat ia terpaksa melintasi sungai dengan bantuan warga atau menggunakan sampan, karena jembatan hanyut atau rusak parah. Namun, yang paling menghantui adalah saat ia harus menghadapi situasi tanpa bantuan, saat air sungai deras menghalangi jalannya, sementara anak-anak muridnya menunggu di sekolah.
“Ketika saya akan menyeberangi sungai dan tidak ada yang membantu, air begitu deras sehingga saya tidak bisa melintas. Saya sangat sedih karena anak-anak menunggu di sekolah, sementara saya terjebak di sini,” ujarnya sambil menahan tangis.
Perjuangan Leni tidak hanya mempengaruhi dirinya sendiri, tetapi juga para muridnya. Anak-anak SD di desa tersebut juga harus melewati jembatan yang sama untuk mencapai sekolah mereka di seberang sungai. Hal ini membuat Leni semakin bertekad untuk memastikan bahwa akses pendidikan tetap terbuka meskipun dalam kondisi sulit seperti ini.
“Saya sangat prihatin, tidak hanya untuk anak-anak di PAUD atau SMP, tetapi juga untuk murid-murid SD saya di Desa Neglasari. Mereka harus melewati jembatan ini setiap hari untuk belajar di madrasah di seberang sungai,” paparnya dengan suara terbata-bata.
Kisah Leni Sumarni adalah cerminan dari ketabahan dan komitmen untuk terus mengabdi kepada pendidikan, meskipun dihadapkan pada tantangan yang mengancam keselamatan dan kesejahteraan. Dalam perjuangannya, ia tidak hanya mengajar pelajaran di kelas, tetapi juga memberikan teladan tentang kekuatan dan keteguhan hati dalam menghadapi ketidakpastian hidup.