Tiga kader tarjih atau ulama muda Muhammadiyah asal Sumut yang mengikuti Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid-III, di Kulonprogo, Yogyakarta (foto: ist)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
MEDAN-Ketua Pimpinan Pusat -PP- Muhammadiyah Haedar Nashir secara resmi membuka Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid-III, di Kulonprogo, Yogyakarta, Kamis, 28/08/2025.
Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid–III yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini, diikuti para mufasir dari berbagai daerah di Indonesia.
Konferensi kali ini, mengusung tema "Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta".
Konferensi yang berlangsung 28-30 Agustus ini, melibatkan tiga kader tarjih atau ulama muda Muhammadiyah asal Sumut. Ketiganya adalah Faisal Amri Al-Azhari S.Th.I MAg dari Langkat, Dzulhajj 'Aeyn AB Siregar S.I.Kom, SPd, M.I.Kom dari Medan dan Nur Fauzi S.Sos, M.Sos dari Mandailing Natal.
Bagi Faizal Amri, ini adalah konferensi ke-3 yang diikutinya. Sedangkan bagi Dzulhajj 'Aeyn AB Siregar, ini adalah konferensi kedua dan bagi Nur Fauzi Lubis merupakan konferensi pertama yang diikutinya. Kehadiran tiga peserta asal Sumut ini, menjadi sebuah kebanggaan bagi karena mampu bergabung bersama 51 mufasir dari seluruh Indonesia.
Ketiganya menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada ketiganya hingga mereka dapat bergabung bersama mufasir lainnya.
Penulis Tafsir At-Tanwir
Pada konferensi tersebut, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Hamim Ilyas, menjelaskan prosesi penyelenggaraan Konferensi Mufasir Muhammadiyah III.
Dalam pemaparannya, Hamim Ilyas menyebut bahwa para mufasir diundang secara terbuka dan telah disaring sebanyak 51 tulisan terpilih dari keseluruhan 89 peserta yang mengirimkan tulisan tafsir At-Tanwir.
"Konferensi Mufasir ini bertujuan untuk menjaring mufasir-mufasir yang menulis tafsir at-tanwir. Mereka diundang secara terbuka dan disaring dari 89 peserta menjadi 51 peserta," ucap Hamim.
Hamim menjelaskan, gerak dakwah Muhammadiyah harus terus hidup dan memiliki jiwa yang berlandaskan pada ayat-ayat Al Quran. "Quran yang hidup dan menjadi jiwa Muhammadiyah adalah Surah Al Maun.
Ini menjadi pijakan bagi kita melakukan transformasi masyarakat yang masih pra-modern menjadi masyarakat modern. Melalui tafsir at-tanwir ini kita berharap yang hidup di Muhammadiyah bukan hanya al maun saja, tapi juga seluruh isi Al Quran," jelasnya.
Dengan berlandas pada seluruh ayat-ayat Al Quran, maka Hamim menambahkan harapannya agar Muhammadiyah dapat hidup dengan lebih besar dalam rangka mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin atau menghadirkan rahmat bagi semesta alam.
"Dengan Al maun, Muhammadiyah telah menunjukkan kebaikan hidup, dan dengan Al Quran secara keseluruhan diharapkan Muhammadiyah dapat hidup lebih besar mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah dan didakwahkan oleh Nabi untuk mewujudkan hayyah thoyyibah," tutur Hamim.
Menurut Hamim, secara sederhana hayyah thayyibah dapat diwujudkan dengan iman dan amal saleh sehingga diharapkan hal tersebut menghasilkan tiga hal yaitu kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan.
"Pertama, lahum ajruhum 'inda rabbihim atau sejahtera se sejahteranya; Kedua, lā khaufun 'alaihim atau tidak ada ketakutan jenis apapun, damai sedamai damainya; Dan terakhir, wa lā hum yaḥzanụn -tidak ada kesedihan dalam semua prosesnya- atau bahagia sebahagia bahagianya," paparnya.
Maka untuk mewujudkan bekal tersebut, Hamim menyebut inilah yang menjadi landasan agar jiwa tafsir at-tanwir dapat diwujudkan sesuai dengan paham agama Muhammadiyah dan landasan teologis untuk transformasi umat Islam menjadi masyarakat modern.*
Editor
: Redaksi
Tiga Ulama Muda Muhammadiyah Sumut Ikuti Konferensi Mufasir Jilid-II di Yogyakarta