BREAKING NEWS
Sabtu, 24 Oktober 2026

Hadapi Tekanan Hidup Modern, Sabar dan Syukur Jadi Kunci Ketenangan Jiwa

T.Jamaluddin - Sabtu, 24 Oktober 2026 07:57 WIB
Hadapi Tekanan Hidup Modern, Sabar dan Syukur Jadi Kunci Ketenangan Jiwa
Ustaz dr. Al-Bukhari. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH — Kesehatan jiwa menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan.

Tuntutan pekerjaan, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, hingga kebiasaan membandingkan kehidupan melalui media sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz dr. Al-Bukhari dalam Pengajian Rutin Sabtu Subuh di Masjid Tgk. H. Jaafar Hanafiah, Universitas Muhammadiyah Aceh, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Baca Juga:

Dalam kajian bertajuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Tengah Kehidupan Modern, Keindahan Sabar dan Syukur Kunci Kesehatan Jiwa, ia mengajak jamaah memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa melalui nilai-nilai Islam, disertai ikhtiar nyata dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Dalam pemaparannya, Al-Bukhari menjelaskan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Kecemasan, kesedihan berkepanjangan, dan tekanan psikologis merupakan persoalan yang perlu diperhatikan, terutama apabila mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ia juga menekankan bahwa orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa tidak serta-merta berarti memiliki iman yang lemah.

Seseorang tetap dapat mengalami persoalan kesehatan mental meskipun rajin beribadah dan memiliki keyakinan agama yang kuat.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah menghakimi orang yang sedang menghadapi kesulitan psikologis dengan menuduh mereka kurang bersyukur atau kurang dekat dengan Allah.

Dalam kajian tersebut, Al-Bukhari mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ya'qub AS yang mengalami kesedihan mendalam ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf AS.

Kisah tersebut tercantum dalam Surah Yusuf ayat 84 dan 86.

Nabi Ya'qub digambarkan mengalami kesedihan yang begitu besar, tetapi tetap menyandarkan pengaduan dan harapannya kepada Allah SWT.

Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian itu, keimanan tidak berarti seseorang harus selalu terlihat kuat atau tidak boleh bersedih.

Kesedihan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Hal yang penting adalah bagaimana seseorang menghadapi keadaan tersebut tanpa kehilangan harapan.

Mengadukan kesedihan kepada Allah juga tidak berarti seseorang harus menutup diri dari pertolongan orang lain.

Berdoa dapat berjalan beriringan dengan upaya mencari nasihat, berbicara kepada keluarga atau sahabat tepercaya, serta berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila diperlukan.

Pelajaran serupa dapat diambil dari kisah Nabi Musa AS dalam Surah Al-Qasas ayat 15–21.

Ketika menghadapi ancaman, Nabi Musa merasakan ketakutan dan berusaha mencari keselamatan.

Kisah ini menunjukkan bahwa rasa takut merupakan bagian dari pengalaman manusia dan dapat direspons melalui doa serta tindakan yang tepat.

Al-Bukhari juga mengajak jamaah memahami makna sabar dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Ia mengacu pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Sabar bukan berarti pasif, menyerah pada keadaan, atau membiarkan ketidakadilan berlangsung.

Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri dan tetap berpegang pada jalan yang benar ketika menghadapi kesulitan.

Dalam persoalan ekonomi, misalnya, sabar berarti tetap berusaha mencari rezeki yang halal tanpa mengambil jalan pintas yang melanggar aturan agama.

Dalam konflik keluarga, sabar dapat diwujudkan dengan mengendalikan emosi, membangun komunikasi yang baik, dan mencari penyelesaian yang adil.

Adapun ketika menghadapi tekanan psikologis, kesabaran dapat diwujudkan dengan tidak berputus asa, menjalani proses pemulihan, dan mencari pertolongan yang sesuai.

Sabar juga membantu seseorang menghindari keputusan terburu-buru ketika emosi sedang memuncak.

Dengan memberi waktu untuk menenangkan pikiran dan memahami persoalan, seseorang dapat mempertimbangkan langkah yang lebih tepat.

Namun, kesabaran tidak selalu membuat masalah langsung selesai.

Sebagian persoalan membutuhkan waktu, dukungan keluarga, perubahan keadaan, dan bantuan profesional.

Selain sabar, syukur menjadi nilai penting yang dibahas dalam pengajian tersebut.

Al-Bukhari mengajak jamaah memahami bahwa syukur tidak sebatas mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menyadari nikmat yang dimiliki dan menggunakannya untuk kebaikan.

Pesan ini dinilai relevan dengan kehidupan modern, ketika media sosial membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.

Berbagai unggahan tentang keberhasilan, kekayaan, penampilan, dan pencapaian dapat memunculkan perasaan tertinggal atau tidak puas terhadap kehidupan sendiri.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian dari kehidupan seseorang.

Setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, kemampuan, dan persoalan yang berbeda.

Dalam konteks ini, syukur membantu seseorang menghargai hal-hal yang telah dimiliki tanpa harus berhenti berusaha memperbaiki kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7, yang artinya:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat."

Mensyukuri nikmat juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti kesempatan menjalani hari baru, kesehatan yang masih dimiliki, keluarga yang mendukung, persahabatan, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Syukur bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki cita-cita atau berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik.

Sebaliknya, seseorang tetap dapat meningkatkan kemampuan, menuntut ilmu, dan memperbaiki kondisi ekonomi tanpa merendahkan dirinya sendiri atau mengukur harga dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.

Dalam kajian tersebut, sabar dan syukur dipahami sebagai dua sikap yang saling melengkapi.

Ketika mendapatkan nikmat, seseorang diajak bersyukur dan menggunakannya untuk kebaikan.

Ketika menghadapi kesulitan, seseorang perlu bersabar sekaligus berusaha mencari jalan keluar.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Nilai sabar dan syukur juga dapat diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti menjaga salat, berdoa, membaca Al-Qur'an, mengenali emosi, menjaga pola tidur, berolahraga, serta merawat hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain itu, masyarakat diajak menggunakan media sosial secara lebih bijak agar tidak terus-menerus membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain.

Dalam menjaga kesehatan jiwa, upaya spiritual juga perlu berjalan bersama langkah nyata.

Apabila kecemasan atau kesedihan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu pekerjaan, ibadah, hubungan keluarga, atau aktivitas sehari-hari, seseorang dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Mencari pertolongan bukan tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan dan kehidupan.


Menutup pembahasan, pesan utama pengajian tersebut mengajak umat Islam membangun kehidupan yang seimbang dengan menguatkan iman, menjaga kesehatan, merawat hubungan sosial, dan mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Ada saatnya seseorang memperoleh keberhasilan, tetapi ada pula masa ketika usaha belum membuahkan hasil atau persoalan datang silih berganti.

Dalam keadaan tersebut, sabar membantu seseorang bertahan menghadapi kesulitan, syukur mengajarkan penghargaan terhadap nikmat yang masih dimiliki, sedangkan ikhtiar mendorong seseorang mengambil langkah nyata untuk memperbaiki keadaan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28 bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ketenteraman bukan berarti hidup tanpa masalah atau tidak pernah merasakan kesedihan.

Sebaliknya, ketenteraman dapat tumbuh ketika seseorang tetap memiliki harapan, berusaha menghadapi kenyataan, dan bersedia menerima dukungan saat membutuhkannya.

Melalui pengajian rutin Sabtu Subuh ini, jamaah diajak menjadikan sabar dan syukur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus membangun kepedulian terhadap orang-orang yang sedang menghadapi persoalan kesehatan jiwa.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Diduga Keracunan Konsumsi Hari Santri Deli Serdang, 32 Santri Dilarikan ke Tiga Rumah Sakit
Allah Janjikan Tambahan Nikmat bagi Orang yang Bersyukur, Ustaz Aiyub Rusli Ingatkan Hal Ini
395 Orang Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG di Cirebon, 218 Masih Dirawat
Bukan Sekadar Kaya, Ini 4 Tanda Orang Beruntung di Dunia dan Akhirat
Perkuat 'Link and Match' Kampus-Industri, Mahasiswa Magister USK Pelajari Sistem K3 di PT PIM
Kena Kendala Server Kemenkes, Pemprov Sumut Tetap Genjot Cek Kesehatan Gratis untuk Jutaan Warga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru