Bahas Narkoba Hingga Asusila Kapolres Aceh Timur Turun Langsung 'Ngopi Bareng' Warga Peudawa
ACEH TIMUR Kapolres Aceh Timur AKBP Aris Cai Dwi Susanto menggelar ngopi bareng bersama elemen masyarakat di Kecamatan Peudawa, Rabu (30/9/
NASIONAL
JAKARTA - Pengenaan tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap produk impor asal Indonesia dinilai sebagai peluang strategis untuk memperkuat industri obat berbahan alam dalam negeri.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Andi Rizaldi, saat ditemui di Jakarta, Jumat (11/7).
Andi menyebut, saat ini bahan baku farmasi nasional masih didominasi impor, sehingga kondisi tarif tinggi dari AS harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengembangkan jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka berbasis potensi lokal.
"Kami melihat justru itu adalah peluang dalam kondisi seperti ini," ujar Andi Rizaldi.
Indonesia Punya Potensi Besar di Obat Bahan Alam
Indonesia memiliki pasar domestik yang kuat dengan 23.576 jenis obat bahan alam, terdiri dari 23.000 jamu, 77 obat herbal terstandar, dan 20 fitofarmaka. Melalui penguatan sektor ini, pemerintah ingin mendorong kemandirian farmasi nasional serta meningkatkan nilai tambah sektor industri kesehatan berbasis kearifan lokal.
Dukungan untuk IKM dan Sertifikasi
Kemenperin menargetkan pengusaha industri kecil dan menengah (IKM) sebagai prioritas pembinaan. Salah satu bentuk dukungannya adalah membantu IKM dalam proses sertifikasi produk dan fasilitas produksi, agar mampu bersaing di pasar global.
"Kita ingin menyisir skala yang lebih kecil karena mereka mungkin ada keterbatasan yang harus kita dukung," jelas Andi.
Ekspor Obat Bahan Alam Tembus Rp10,37 Triliun
Data Kemenperin mencatat, nilai ekspor industri obat bahan alam selama Januari hingga September 2024 telah mencapai USD 639,42 juta atau setara Rp10,37 triliun (kurs Rp16.224). Ini menunjukkan tren ekspansi positif dan prospek cerah untuk pasar global.
Fasilitas Produksi Diperkuat Lewat House of Wellness
Sebagai bagian dari roadmap penguatan industri ini, Kemenperin tengah mengembangkan House of Wellness, yaitu fasilitas modern untuk memproduksi obat berbahan alami. Fasilitas ini dilengkapi dengan peralatan pengolahan simplisia—seperti mesin pencuci, pemotong, peniris, dan pengering—yang menunjang standar produksi berkelanjutan.
Andi menambahkan, jenis perusahaan yang tergabung dalam industri obat bahan alam di Indonesia meliputi Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), dan Industri Obat Tradisional (IOT).
Pemerintah pun terus mendorong sinergi antar pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri ini di tingkat internasional.*
(J006)
ACEH TIMUR Kapolres Aceh Timur AKBP Aris Cai Dwi Susanto menggelar ngopi bareng bersama elemen masyarakat di Kecamatan Peudawa, Rabu (30/9/
NASIONAL
MEDAN Rumah Sakit Adam Malik Medan memperkuat layanan jantung dengan menghadirkan teknologi Pulse Field Ablation (PFA) untuk menangani pas
KESEHATAN
BOGOR Temuan hunian dengan fasilitas mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendapat sorotan media asing. Kasus t
NASIONAL
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan pada Rabu (30/9/2026) tercatat masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Berdasarkan data peman
KESEHATAN
JAKARTA Ombudsman RI mengungkap dugaan pungutan liar (pungli) di Rutan Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur. Warga binaan disebut harus memb
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Kolonel TNI Cba Harfan Bahar didakwa memesan narkotika jenis sabu dan ekstasi dari mantan pacarnya, Januwati. Dalam dakwaan disebutka
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Dr. OK Saidin mengusulkan pembentukan Komite Integritas Riset Nasi
PENDIDIKAN
JAKARTA Pengamat politik Rocky Gerung menyoroti perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden 2024 yang memp
POLITIK
LUBUK PAKAM Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Deli Serdang tercatat sebesar 7,69 persen berdasarkan data Badan Pusat Statisti
EKONOMI
JAKARTA Penghasilan manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) ditetapkan berkisar Rp6,3 juta hingga Rp8,3 juta per bulan. Pemerin
EKONOMI