Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 100,034, turun tipis 0,17 poin atau 0,17%.
Secara regional, dolar AS melemah terhadap yen Jepang 0,19%, baht Thailand 0,07%, ringgit Malaysia 0,16%, dolar Taiwan 0,02%, dan dolar Singapura 0,1%.
Namun, dolar AS justru menguat terhadap won Korea 0,29%, peso Filipina 0,01%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Pengamat ekonomi dan mata uang dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah masih menghadapi tekanan eksternal akibat penguatan dolar AS, meski kondisi ekonomi domestik relatif solid.
"Dolar AS terus menguat sejak pekan lalu, terutama setelah The Fed menyatakan pemotongan suku bunga Desember belum pasti. Meskipun The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada Oktober, langkah ini sudah diantisipasi pasar sehingga tidak menahan penguatan dolar," jelas Ibrahim.
Data CME FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan peluang 69,8% The Fed akan kembali menurunkan suku bunga 25 basis poin pada Desember, sementara 30,2% memperkirakan suku bunga dipertahankan.
Di sisi domestik, sentimen positif datang dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Ekonomi nasional tumbuh 5,04% year on year (YoY) pada kuartal III-2025, menandakan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Secara quarter to quarter (QtQ), pertumbuhan tercatat 1,43% dibanding kuartal II-2025, sementara secara kumulatif Januari–September 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,01% YoY.
Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III/2025 tercatat Rp6.060 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.444,8 triliun atas dasar harga konstan.
Ibrahim menambahkan, rupiah diproyeksi bergerak fluktuatif pada kisaran Rp16.710–Rp16.760 per dolar AS hari ini, seiring kombinasi faktor eksternal dan data ekonomi domestik yang cukup solid.*