Tren pelemahan ini memperkuat sinyal bearish rupiah jangka menengah.
Sementara itu, pergerakan mata uang Asia cenderung beragam. Peso Filipina menguat 0,09%, yen Jepang 0,08%, dan dolar Singapura 0,02%.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,28%, ringgit Malaysia 0,09%, baht Thailand 0,09%, dan offshore renminbi China turun tipis 0,01%.
Pelemahan rupiah tidak terlepas dari tekanan eksternal.
Perang dagang yang diumumkan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran serta kriminalisasi gubernur bank sentral AS mendorong dolar AS menguat 0,05% ke level 99,372.
Dari sisi domestik, defisit fiskal Indonesia yang mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Beberapa ekonom memprediksi defisit akan melebar ke level 3–3,5% PDB pada tahun ini.
Secara teknikal, analis memperkirakan rupiah berpotensi melemah lebih lanjut hingga Rp16.950/US$, dengan support kuat di sekitar Rp17.000/US$.
Apabila terjadi penguatan, resistance terdekat berada di Rp16.840/US$, dengan kisaran antara Rp16.780–16.800/US$.
Bank Indonesia diprediksi mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada rapat 21 Januari mendatang.
Langkah ini dimaksudkan untuk menahan tekanan pelemahan rupiah yang masih dipengaruhi faktor eksternal dan defisit fiskal.
"Rupiah menghadapi tekanan simultan dari faktor global dan domestik. BI cenderung menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata analis Bloomberg.
Dengan tren bearish yang terus berlanjut, pelaku pasar diminta mencermati pergerakan dolar AS dan perkembangan defisit fiskal sebagai indikator utama pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.*
(bb/ad)
Editor
: Raman Krisna
Rupiah Kembali Terpuruk, Capai Rp16.930 per Dolar AS di Pasar NDF