Sementara itu, ketegangan perdagangan AS-Uni Eropa masih menjadi perhatian, termasuk risiko tarif dan tindakan militer yang sempat disinyalir Trump.
Dari sisi domestik, Dana Moneter Internasional (IMF) menekankan pentingnya kehati-hatian Bank Indonesia (BI) dalam melakukan intervensi valuta asing.
Menurut IMF, intervensi harus bersifat bijaksana dan terukur agar rupiah tetap berfungsi sebagai penahan guncangan di tengah ketidakpastian global.
BI selama ini menggunakan instrumen pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri untuk mengelola volatilitas.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati pergerakan rupiah yang tetap fluktuatif, seiring berita global dan keputusan kebijakan AS yang memengaruhi arah pasar finansial.*