JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru terkait komposisi pendidikantenaga kerja di Indonesia.
Mayoritas pekerja masih berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah. Laporan ini dirilis pada 5 Februari 2026, berdasarkan survei BPS pada November 2025.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan bahwa dari total angkatan kerja sebanyak 155,27 juta orang, sebanyak 147,91 juta orang bekerja, sementara 7,35 juta orang tercatat sebagai pengangguran.
"Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja disebut pengangguran, dengan jumlah 7,35 juta orang per November 2025," ujar Amalia melalui tayangan resmi YouTube BPS Statistics, Kamis (5/2/2026).
BPS mencatat, sebanyak 34,63 persen pekerja berpendidikanSD ke bawah.
Meski mendominasi, angka ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan catatan Agustus 2025 sebesar 34,75 persen dan Februari 2025 sebesar 35,89 persen.
Sementara itu, lulusan SMK meningkat dari 12,84 persen pada Februari 2025 menjadi 14,06 persen pada November 2025.
Rincian persentase pekerja berdasarkan pendidikan November 2025: SD ke bawah: 34,63% SMP: 17,31% SMA: 20,99% SMK: 14,06% Diploma (D1–D3): 2,20% Sarjana & Pascasarjana (D4–S3): 10,81%
Dalam hal sektor lapangan usaha, tiga sektor utama yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah pertanian (27,99 persen), perdagangan (18,67 persen), dan industri pengolahan (13,86 persen).
Sektor lain seperti akomodasi dan makan minum, konstruksi, dan pendidikan masing-masing menyerap tenaga kerja 8,16 persen, 6,51 persen, dan 5,06 persen.
Amalia menekankan bahwa meski proporsi pekerja berpendidikanSD ke bawah masih tinggi, adanya peningkatan lulusan SMK dan pendidikan tinggi menjadi tanda positif bahwa kualitas pendidikantenaga kerja mulai meningkat.
Data ini menjadi penting bagi pemerintah dan dunia usaha dalam merumuskan kebijakan pendidikan, pelatihan vokasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi pasar kerja nasional maupun global.*