BANDA ACEH — Bank Indonesia (BI) memperkuat upaya percepatan sertifikasihalal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Aceh menjelang pemberlakuan Wajib Halal Oktober 2026.
Melalui Bagian Pengembangan UMKM, BI menggelar diskusi strategis yang melibatkan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) se-Aceh di Banda Aceh, Senin, 9 Februari 2026.
Diskusi ini membahas strategi perluasan sertifikasi halal bagi UMKM, baik melalui skema reguler maupun skema pernyataan mandiri (self declare).
Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi halal sekaligus memperkuat daya saing UMKM di pasar nasional dan global.
Ketua LP3H UIN Ar-Raniry, Dr. Jalaluddin, M.A., yang menjadi salah satu peserta diskusi, menilai Bank Indonesia menunjukkan komitmen kuat dan konsisten dalam mendorong penguatan ekonomi daerah berbasis UMKM, termasuk melalui pengembangan ekosistem halal.
"Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan LPH dan LP3H di Aceh, baik dari perguruan tinggi maupun lembaga nonkampus. Diskusi ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menyukseskan pemberlakuan Wajib Halal Oktober 2026," ujar Jalaluddin.
Ia menjelaskan, LPH UIN Ar-Raniry diwakili oleh Sekretaris Program Studi Manajemen Industri Halal, Isnailina, M.A., sementara LP3H dihadiri langsung oleh dirinya.
Keduanya merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry. Kehadiran unsur akademisi ini menegaskan peran perguruan tinggi dalam memperkuat ekosistem halal di Aceh.
Diskusi juga dihadiri Direktur Eksekutif Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Aceh Prof. Syahrizal, M.A., serta perwakilan Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Aceh.
Pemerintah daerah, kata Jalaluddin, memberikan dukungan penuh terhadap percepatan sertifikasihalal sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi syariah Aceh.
"Melalui sinergi antara BI, LPH, LP3H, akademisi, dan pemerintah daerah, kami berharap implementasi Wajib Halal 2026 berjalan optimal dan UMKMAceh semakin berdaya saing," kata Jalaluddin.*