BREAKING NEWS
Jumat, 06 Maret 2026

Airlangga Ungkap RI Kekurangan Insinyur, Industri Digital Butuh 150 Ribu Tenaga Ahli Baru

Adelia Syafitri - Jumat, 06 Maret 2026 12:17 WIB
Airlangga Ungkap RI Kekurangan Insinyur, Industri Digital Butuh 150 Ribu Tenaga Ahli Baru
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: ekon.go.id)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Pemerintah menyatakan Indonesia masih membutuhkan tambahan sekitar 150 ribu insinyur dalam beberapa tahun ke depan guna mendukung percepatan pengembangan industri digital nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Menurut Airlangga, kebutuhan tenaga insinyur semakin mendesak seiring perkembangan industri berbasis teknologi, termasuk sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Baca Juga:

Ia menyebut jumlah insinyur yang dibutuhkan setara dengan peningkatan sekitar 45 persen dari jumlah engineer yang ada saat ini.

"Kita butuh tambahan sekitar 150 ribu engineer dalam satu sampai enam tahun ke depan untuk mendukung pengembangan industri digital," kata Airlangga.

Secara khusus, sektor industri semikonduktor diperkirakan membutuhkan sekitar 15 ribu insinyur guna menopang rantai produksi teknologi tinggi yang kini menjadi fokus pengembangan pemerintah.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mendorong berbagai program pelatihan vokasi, termasuk retraining dan reskilling tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama internasional untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Salah satunya melalui program pelatihan bagi 15 ribu insinyur yang disiapkan dalam kerja sama antara Danantara dan Arm Limited guna memperkuat ekosistem teknologi digital.

Di sisi lain, Indonesia dinilai mulai menunjukkan kesiapan dalam pengembangan teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan.

Indonesia bahkan menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment, sebuah evaluasi kesiapan negara dalam mengembangkan teknologi AI secara etis dan berkelanjutan.

Airlangga menuturkan bahwa teknologi AI memiliki potensi besar terhadap perekonomian global. Secara internasional, AI diproyeksikan berkontribusi hingga 15,7 triliun dolar AS terhadap ekonomi dunia pada 2030.

Sementara di Indonesia, teknologi AI generatif diperkirakan mampu menambah kontribusi ekonomi hingga 243,5 miliar dolar AS.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar teknologi digital, tetapi juga berupaya menjadi pencipta dan pemilik inovasi teknologi.

"Indonesia adalah pasar potensial yang besar. Namun kita harus memastikan bahwa kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta dan pemilik teknologi tersebut," ujar Airlangga.

Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 124 miliar dolar AS pada 2025, menjadikannya yang terbesar di kawasan ASEAN.

Pemerintah juga menargetkan Indonesia masuk 45 besar Global Innovation Index pada 2030 sebagai bagian dari strategi pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045.*

(mt/dh)

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cadangan Devisa RI Turun Menjadi US$ 151,9 Miliar, BI Pastikan Ketahanan Eksternal dan Stabilitas Makroekonomi Tetap Terjaga
Selat Hormuz Ditutup, Waka MPR: RI Punya Alternatif Pasokan Migas
Bali Bersih Sampah: Menteri LH dan Gubernur Koster Serukan Pilah Sampah dari Sumber
Ngaku Tak Paham Hukum karena Pedangdut, Fadia Arafiq Disentil Wamendagri Bima Arya
Lebaran 2026 Semakin Dekat: Muhammadiyah Pastikan Tanggal, Pemerintah Siapkan Sidang Isbat
Mau Cepat Dapat Pekerjaan? Walk-In Interview Jadi Solusi Kemnaker
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru