Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menurut Airlangga, kebutuhan tenaga insinyur semakin mendesak seiring perkembangan industri berbasis teknologi, termasuk sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.
Ia menyebut jumlah insinyur yang dibutuhkan setara dengan peningkatan sekitar 45 persen dari jumlah engineer yang ada saat ini.
"Kita butuh tambahan sekitar 150 ribu engineer dalam satu sampai enam tahun ke depan untuk mendukung pengembangan industri digital," kata Airlangga.
Secara khusus, sektor industri semikonduktor diperkirakan membutuhkan sekitar 15 ribu insinyur guna menopang rantai produksi teknologi tinggi yang kini menjadi fokus pengembangan pemerintah.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mendorong berbagai program pelatihan vokasi, termasuk retraining dan reskilling tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama internasional untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Salah satunya melalui program pelatihan bagi 15 ribu insinyur yang disiapkan dalam kerja sama antara Danantara dan Arm Limited guna memperkuat ekosistem teknologi digital.
Airlangga menuturkan bahwa teknologi AI memiliki potensi besar terhadap perekonomian global. Secara internasional, AI diproyeksikan berkontribusi hingga 15,7 triliun dolar AS terhadap ekonomi dunia pada 2030.