Gubsu Bobby Nasution didampingi Kadis Perindag Sumut Dedi Jaminsyah Harahap, Kepala Perwakilan Kantor BI Sumut Rudy Brando Hutabarat meninjau harga bahan pokok di Pasar Sukaramai, Medan. (foto: Diskominfo Sumut / Fahmi Aulia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjelang perayaan Idulfitri 2026, serta mengantisipasi lonjakan harga yang dapat membebani masyarakat.
Usai melakukan pemantauan, Bobby menyampaikan bahwa harga bahan pokok di Pasar Sukaramai terpantau relatif stabil menjelang Lebaran.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena harga-hargabahan pokok tidak mengalami lonjakan yang signifikan.
"Alhamdulillah, harga tidak bergejolak begitu tinggi. Harga-harga Alhamdulillah stabil," ujar Bobby di sela-sela peninjauan.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, beberapa bahan pokok menunjukkan harga yang masih terjangkau, antara lain cabai merah yang dijual dengan harga Rp32 ribu per kilogram, cabai rawit Rp24 ribu per kilogram, bawang merah Rp32 ribu per kilogram, serta daging sapi dengan harga Rp135 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.
Selain itu, minyak goreng merk Minyakita juga dijual seharga Rp16 ribu per liter.
Bobby memastikan harga-harga tersebut masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), yang merupakan patokan harga pemerintah.
"Telur harganya tadi Rp1.800, HET (Harga Eceran Tertinggi), ayam di bawah HET, daging juga Rp135 ribu, Rp140 ribu," tambahnya.
Menurut Bobby, faktor yang mempengaruhi harga saat ini bukanlah masalah ketersediaan stok, melainkan distribusi barang.
Ia menjelaskan bahwa stok bahan pokok di Sumut dalam kondisi aman, namun permasalahan distribusi masih dapat mempengaruhi kelancaran pasokan ke pasar-pasar.
"Nah ini kita indikasikan bukan stoknya. Tiba-tiba kemarin tidak ada barangnya, hari ini tiba-tiba ada barangnya, ini bukan masalah stok, hanya masalah distribusi. Makanya tadi saya titik beratkan pantau distribusinya, yang lain aman," jelas Bobby.
Selain meninjau hargabahan pokok, Bobby juga memantau pelaksanaan program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di pasar tersebut.
Program yang melibatkan sejumlah pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), bertujuan untuk memberikan hargapangan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Dalam program GPM, beberapa komoditas dijual dengan harga lebih murah, antara lain ayam ras beku seharga Rp40 ribu per kilogram, beras SPHP (Stabilisasi Pangan Harga Pangan) Rp58 ribu per 5 kilogram, dan Minyakita kemasan 2 liter seharga Rp31 ribu.
Pembayaran dalam program ini juga dilakukan menggunakan sistem pembayaran digital QRIS.
"Bersama kita dengan BI, dengan seluruh TPID, dengan Polda, semuanya, kita meluncurkan program dan kita melihat efektivitas program tersebut, memang khusus untuk hari raya ini, Alhamdulillah berdampak," ujar Bobby.
Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Sumatera Utara, Rudy Brando Hutabarat, menambahkan bahwa Gerakan Pangan Murah berbasis QRIS bertujuan untuk meningkatkan penggunaan sistem pembayaran digital di masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.
"Program ini tidak hanya untuk mengendalikan hargapangan, tetapi juga untuk mendukung digitalisasi transaksi di masyarakat," kata Rudy.*