Ketegangan juga masih terasa di jalur strategis energi global. Penutupan Selat Hormuz serta blokade kapal oleh Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent tercatat melonjak 3,48 persen ke US$ 101,91 per barel, level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global tetap tinggi.
Kondisi ini membuat bank sentral di berbagai negara diperkirakan menahan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas.
Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas cenderung melemah saat suku bunga tetap tinggi karena investor beralih ke instrumen yang memberikan return lebih kompetitif.
0,5 gram: Rp 1.452.500 1 gram: Rp 2.805.000 2 gram: Rp 5.550.000 3 gram: Rp 8.300.000 5 gram: Rp 13.800.000 10 gram: Rp 27.545.000 25 gram: Rp 68.737.000 50 gram: Rp 137.395.000 100 gram: Rp 274.712.000 250 gram: Rp 686.515.000 500 gram: Rp 1.372.820.000 1.000 gram: Rp 2.745.600.000
Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan global serta perkembangan geopolitik sebagai penentu pergerakan emas dalam jangka pendek.*