Berdasarkan data resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini berada di level Rp 2.805.000 per gram, turun Rp 25.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga pembelian kembali (buyback) juga ikut melemah Rp 30.000 menjadi Rp 2.610.000 per gram.
Penurunan harga ini mencerminkan pergerakan emas global yang cenderung stagnan.
Di pasar internasional, harga emas spot tercatat turun tipis 0,07 persen ke level US$ 4.736,38 per troy ons pada pukul 08.48 WIB.
Meski sempat mendapat sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah, harga emas belum mampu menguat signifikan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran yang dimulai sejak 7 April akan terus berlangsung tanpa batas waktu.
Pernyataan ini sempat meredakan kekhawatiran pasar.
Namun demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati.
Washington disebut tengah menunggu proposal damai terbaru dari Teheran, sementara Iran belum menunjukkan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.
Ketegangan juga masih terasa di jalur strategis energi global. Penutupan Selat Hormuz serta blokade kapal oleh Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent tercatat melonjak 3,48 persen ke US$ 101,91 per barel, level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global tetap tinggi.
Kondisi ini membuat bank sentral di berbagai negara diperkirakan menahan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas.
Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas cenderung melemah saat suku bunga tetap tinggi karena investor beralih ke instrumen yang memberikan return lebih kompetitif.
0,5 gram: Rp 1.452.500 1 gram: Rp 2.805.000 2 gram: Rp 5.550.000 3 gram: Rp 8.300.000 5 gram: Rp 13.800.000 10 gram: Rp 27.545.000 25 gram: Rp 68.737.000 50 gram: Rp 137.395.000 100 gram: Rp 274.712.000 250 gram: Rp 686.515.000 500 gram: Rp 1.372.820.000 1.000 gram: Rp 2.745.600.000
Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan global serta perkembangan geopolitik sebagai penentu pergerakan emas dalam jangka pendek.*