Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA– Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026). Rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp17.424 per dolar Amerika Serikat (AS), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Ketegangan tersebut berdampak pada pasar global, terutama sektor energi.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan situasi geopolitik di kawasan Teluk turut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Serangan militer yang terjadi di wilayah strategis seperti Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak global.
Baca Juga:
"Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk terminal minyak di Uni Emirat Arab," ujarnya.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kebijakan moneter global. Lonjakan harga energi meningkatkan potensi inflasi dan mendorong bank sentral global mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi AS naik dan memperkuat dolar AS.
Di sisi lain, data domestik menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, didukung oleh momentum libur nasional serta kebijakan stimulus pemerintah seperti pencairan tunjangan hari raya dan diskon transportasi.
Meski demikian, tekanan eksternal yang berlanjut membuat pergerakan rupiah masih dibayangi volatilitas dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan konflik global serta arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia.*
(k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.