BREAKING NEWS
Selasa, 29 September 2026

BI Buka-bukaan Penyebab Dolar AS Tembus Rp18.000

Dharma - Selasa, 29 September 2026 12:47 WIB
BI Buka-bukaan Penyebab Dolar AS Tembus Rp18.000
Logo Bank Indonesia (BI). (FOTO AFUID)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan risiko fiskal.

Kondisi tersebut diperberat kenaikan harga minyak dunia yang disebut telah menembus US$108 per barel akibat belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Baca Juga:

"Kenaikan harga minyak hingga di atas US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," kata Erwin dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).

Menurut Erwin, perkembangan tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut. Dampaknya turut terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang mencapai 5,23 persen.

Level tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.

Selain faktor eksternal, tekanan rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III 2026.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujar Erwin.

BI menilai pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67 persen.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

BI memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga mekanisme perdagangan valuta asing berjalan dengan baik sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamental ekonomi.

Upaya stabilisasi dilakukan melalui penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar. BI juga menjaga kecukupan likuiditas serta memperkuat instrumen lindung nilai.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tak Ada Wilayah Berkategori Baik, Kualitas Udara Sumut Kompak Sedang Selasa Ini
Pedas Bikin Menjerit! Harga Cabai Rawit Merah Nyaris Tembus Rp 100 Ribu/Kg, Cek Rincian Sembako Hari Ini
Usut Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Komisi II DPR Panggil Ombudsman Siang Ini
Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini: Cek Rincian Lengkap & Buyback yang Terjun Bebas
IHSG Merah Membara di Pagi Hari Ambruk ke Level 6.112, Seluruh Sektor Tumbang
Tembus Rp 18.000/USD! Rupiah Anjlok Terseret Panasnya Selat Hormuz dan Sikap Trump
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru