BREAKING NEWS
Jumat, 07 Agustus 2026

Bursa Indonesia Jadi yang Terburuk di Asia! IHSG Anjlok 3,08 Persen, Rupiah Jebol Rp17.723 per Dolar AS

Nurul - Selasa, 19 Mei 2026 13:26 WIB
Bursa Indonesia Jadi yang Terburuk di Asia! IHSG Anjlok 3,08 Persen, Rupiah Jebol Rp17.723 per Dolar AS
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama, Selasa, 19 Mei 2026, siang ini pukul 13:27. (foto: Gfinance)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama, Selasa, 19 Mei 2026, di zona merah.

Tekanan jual yang tinggi membuat indeks saham Indonesia menjadi salah satu yang terburuk di kawasan Asia.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup melemah 3,08 persen ke level 6.396 pada akhir sesi pertama.

Baca Juga:

Sepanjang perdagangan pagi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.635 dan terendah 6.376.

Volume perdagangan tercatat mencapai 27,96 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp15,13 triliun.

Tekanan terbesar berasal dari sektor barang baku, energi, dan transportasi yang masing-masing turun 7,26 persen, 6,47 persen, dan 5,94 persen.

Sementara sektor infrastruktur melemah 3,91 persen dan sektor perindustrian turun 3,42 persen.

Sejumlah saham unggulan mengalami koreksi tajam. Saham RLCO turun 14,9 persen, disusul TPIA yang jatuh 14,7 persen dan INDY melemah 14,6 persen.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan pada mayoritas bursa Asia.

Indeks KOSPI Korea Selatan, Nikkei 225 Jepang, CSI 300 Cina, hingga SET Thailand juga tercatat bergerak di zona merah. Namun penurunan IHSG menjadi yang terdalam di kawasan.

Sentimen utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh titik terendah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah ke level Rp17.723 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan siang.

Tekanan terhadap rupiah memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya mata uang Garuda juga terkoreksi lebih dari satu persen.

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.

Di sisi global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 4,6 persen turut menekan pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia dan tensi geopolitik global.

Bank Indonesia sebelumnya menyatakan telah meningkatkan intervensi pasar guna menjaga stabilitas rupiah.

Gubernur Perry Warjiyo menyebut bank sentral melakukan langkah "all out" melalui intervensi pasar valuta asing dan penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurut Perry, langkah tersebut mulai menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik dengan inflow sekitar Rp75 triliun sepanjang April hingga Mei 2026.*


(bb/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Melemah Lagi! Tembus Rp17.685, BI Sebut “Nilai Fundamental Harusnya di Rp16.500”
IHSG Cuma Naik 0,04%! Investor Tunggu Keputusan “Panas” BI
Emas Tiba-Tiba Naik Lagi! Antam Tembus Rp2,78 Juta per Gram
Bareskrim Tangkap Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat, Diduga Jadi “Backing” dan Terima Aliran Dana Jaringan Bandar Narkoba
KTT ASEAN dan Diplomasi Strategis Prabowo
Perry Warjiyo Disarankan Mundur Imbas Rupiah Melemah, Gubernur BI Tegas: Yakin Stabil
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru