Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,55 persen menjadi 72.353,96 dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,69 persen ke level 9.114,55.
Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,65 persen menjadi 23.768,52.
S&P/ASX 200 Australia melemah 0,14 persen, sedangkan Asia Dow terkoreksi 1,04 persen.
Selain pasar saham, tekanan juga terjadi pada pasar valuta asing.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.843 per dollar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan meningkatnya risiko inflasi menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.
Menurut Ibrahim, sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi mulai menjadi perhatian pelaku pasar dan bank sentral.
"Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral," ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, potensi kenaikan inflasi dapat dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan komoditas global juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri.
Tak hanya itu, kemunculan fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini dinilai dapat memberikan tekanan terhadap harga pangan nasional.
Meski demikian, Bank Indonesia masih meyakini tingkat inflasi akan tetap berada dalam target yang telah ditetapkan, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.